Main Menu

Simpatisan ISIS itu, telah menghianati Negara secara Sadar

Mewaspadai WNI Simpatisan ISIS Yang Ingin Kembali

Simpatisan ISIS

Membaca berbagai berita dari media lain tentang WNI (warga negara Indonesia) yang ingin kembali ke tanah air setelah menyesal dan melihat realita hidup di “kawasan yang dikuasai” ISIS tentu menyisakan kekhawatiran bagi penulis.

Kekhawatiran akan berbagai ulah apabila mereka benar-benar sudah kembali ke Indonesia. Sebab tak dimungkiri dari sisi “hati nurani” sebenarnya mereka sudah melepas ikatan kewarganegaraan Indonesia yakni sejak pertamakali berangkat ke sana dengan alasan ingin hidup di bawah naungan ‘Kekhalifahan ISIS’.

Sebagaimana diberitakan di media-media arus utama beberapa hari terakhir, sebanyak 17 warga negara Indonesia ( WNI) yang sebelumnya meninggalkan Indonesia untuk bergabung dan  Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS) menyatakan ingin kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kami 17 orang ingin bersama-sama kembali ke Indonesia. Kami berharap bantuan dari pemerintah Indonesia untuk membantu kami keluar dari Suriah dengan aman,” kata Dilfansyah di Kamp Ain Issa di Suriah. Dilfansyah termasuk di antara 12 perempuan lainnya berada di kamp tersebut dan lima orang lainnya adalah laki-laki dewasa yang berada di kota Kobane, Suriah utara. (1)

Tanggapan kontra dari masyarakat Indonesia menanggapi langkah pemerintah ini cukup banyak. Menerima, menjemput dan memberi kesempatan kedua bagi para simpatisan ISIS asal Indonesia ini merupakan langkah yang beresiko tinggi bagi keamanan di negara Indonesia. Sebab mereka-mereka simpatisan Isis adalah orang-orang oportunis yang sebelumnya telah menghianati kesetiaan pada Indonesia. Dengan kata lain telah secara sadar mengganti kewarganegaraannya.

Mereka ingin kembali ke Indonesia dikarenakan kekecewaaannya pada ISIS bahwa semua mimpinya tak sesuai yang diharapkan. Jadi bukan karena kecintaan kembali kepada Negara Indonesia dan Dasar Negara Indonesia. Apalagi jika seandainya  sebagian diantara mereka juga adalah kombatan yang ikut membunuh rakyat tak berdosa di Suriah.

Selain itu Indonesia akan rawan tercitra sebagai negara yang memberi toleransi kepada para radikalis dalam hal ini simpatisan/pendukung ISIS ini. Selain berdampak jelek di mata dunia, juga menurunkan kadar ketegasan yang akan membuat jera para warga negara yang ingin atau akan bergabung dengan tindakan-tindakan terorisme atau ideologi-ideologi radikalis. Sesuatu yang memang dilematis untuk pemerintah Republik Indonesia. Alih-alih akan menciptakan ketegasan terhadap Negara dan Dasar Negara, malah bisa membuat negara makin lemah.

Keberadaaan WNI yang bergabung dengan ISIS bukan berita baru. Sebab di dua tahun terakhir, kala kekuatan ISIS mulai mengalami kemunduran, informasi mengenai simpatisan-simpatisan yang berasal dari Indonesia dan ingin kembali sudah beredar cukup banyak.

Kurang lebih setahun lalu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius mengatakan, tercatat lebih dari 50 WNI anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang kembali ke Indonesia. Mereka pulang kampung karena terdesak operasi militer Pemerintah Irak untuk merebut Kota Mosul. BNPT memperkirakan masih ada 400 WNI lagi yang berada di sana dan akan pulang ke Indonesia jika ISIS terus terdesak oleh pasukan Irak. Dalam laporannya kepada Presiden, BNPT mengatakan ada sekitar 50-an sudah kembali dan masih di sana ada sekitar 400 lebih. (2)

Hingga pertengahan tahun ini, delusi negara Islam Irak dan Suriah memang semakin menuju liang kehancurannya. Pemerintah sah negara Suriah di bawah pemerintah sah Bassar Al-Assad bersama koalisinya perlahan tapi pasti semakin progresif dalam menumpas para radikalis ini, demikian pula dari pergerakan pemerintahan Irak yang ingin merebut kembali wilayahnya yang terserobot.

Sehingga simpatisan-simpatisan ISIS yang berasal dari segala penjuru dunia yang awalnya terbius mimpi “Negara Islami” versi ISIS, mulai kalang kabut. Tak pelak apapun mereka lakukan untuk bertahan hidup. Mengingat kesetiaan dan loyalitas mungkin bukan hal sakral lagi bagi mereka ini. Untuk itu pemerintah melalui BNPT juga harus semakin jeli dalam menjalankan kebijakannya memfasilitasi simpatisan ISIS yang ingin kembali ke Indonesia. Sebab sesungguhnya mereka bukan korban ISIS sebagaimana bingkai yang ingin mereka bangun. Mereka adalah orang yang sebenarnya masuk dalam kategori “Penghianat Bangsa”, sebab mereka bukan sekedar melakukan penghianatan karena paksaan, tetapi secara sadar telah menghianati bangsa.

Dalam analisis seorang netizen, Alto Luger, yang cukup intens mengikuti perkembangan berita tentang radikalisme dan ISIS ini, ia memaparkan bahwa mentalitas korban yang dibangun WNI simpatisan ISIS itu justru menjadikan mereka untuk layak dicurigai. Sebab ada beberapa poin penting yang membuat kata korban menjadi tidak layak disematkan pada mereka. Berikut Analisa Alto Luger di halaman facebook pribadinya.

Berikut ulasan Alto Luger (3)(Sebagian kata mungkin diedit tanpa mengurangi makna dari analisa yang bersangkutan-Red).

  1. Propaganda ISIS

Dari sudut intelijen militer, ISIS adalah organisasi radikal berbalut agama yang menyempurnakan kekuatan konseptual ideologis dengan memakai taktik militer teritorial digabung asimetrik. Untuk menarik kombatan, anggota atau simpatisan, ISIS memakai taktik social engineering yang terbukti sangat ampuh.Secara taktis, ada dua target Yang pertama adalah kalangan yang ingin berjihad bagi berdirinya Dawlah Islamiyah alias Khilafah di Syria/Iraq. Mereka ini rata-rata adalah kelompok pemuda yang pernah punya pengalaman berjihad di negaranya masing-masing (chechnya, Iraq, Syria bahkan Indonesia) dan anak-anak muda yang ingin merasakan apa itu ‘war Tourism’, alias turis perang. Mereka ini adalah anak-anak muda yang belum pernah berperang tetapi ingin merasakan apa itu perang, membunuh orang, menikmati hasi perang baik harta maupun wanita yang ditangkap. Kombinasi antara membunuh dan seks menjadi materi utama dari propaganda dimaksud. Untuk target ini, ISIS memproduksi video-video propaganda yang bermuatan sadistik secara profesional. Salah satu video pertama ISIS yang diproduksi untuk kalangan ini dirilis pada bulan juli 2014. Target kedua adalah orang-orang, terutama keluarga dan perempuan-perempuan single, yang ingin hidup di dalam kehidupan dawlah Islamiyah atau Khilafah yang didirikan ISIS di Iraq/Syria. Untuk kalangan ini, propaganda yang dibuat adalah propaganda yang menunjukkan sisi humanis, ramah, modern serta bersahabat. Salah satu video promosi dari ISIS untuk segmen ini adalah video yang diproduksi oleh Vice tanggal 26 Desember 2014.(4) Yang penting untuk kita pahami dari propaganda ISIS ini adalah bahwa propaganda ISIS yang dipilih oleh seseorang kombatan, anggota atau simpatisan ISIS adalah merupakan pilihan pribadi. Orang-orang ini memilih ISIS karena mereka memang ingin bergabung dengan ISIS.

  1. Proses “Hijrah” ke Dawlah Islamiyah atau Khilafah buatan ISIS.

Raqqa dan Mosul adalah dua kota utama dalam kekhilafahan ISIS dan kedua kota ini menjadi simbol kekhilafahan ISIS. Apabila seseorang dari Indonesia, baik itu perorangan maupun keluarga sampai ke Raqqa atau Mosul, atau daerah lain dalam Kekhilafahan ISIS, maka dia akan melalui tahapan-tahapan berikut ini:

  1. Proses propaganda – Ini adalah proses dimana seseorang mulai mengikuti propaganda ISIS sesuai interestnya (target pertama atau kedua). Orang ini akan mulai percaya akan propaganda ISIS setelah melihat video yang dibuat ISIS.
  2. Proses komunikasi awal – Setelah melihat dan tertarik dengan propaganda ini, orang tersebut dengan sadar akan berusaha menghubungi ISIS. Ada banyak cara untuk menghubungi ISIS. Yang paling sederhana adalah menulis komen di link atau publikasi ISIS. Selain itu, orang tersebut akan berusaha mencari informasi lewat kelompok-kelompok radikal yang sudah dikenalnya;
  3. Proses indoktrinasi – Setelah melakukan kontak, orang tersebut akan mulai melakukan hubungan langsung dengan ‘handler’ dari ISIS. Proses ini biasanya dilakukan secara online. Ini adalah proses dimana orang tersebut dan ‘handlernya’ saling membangun kepercayaan. Harus diingat bahwa bahwa ISIS adalah organisasi dengan kemampuan intelijen militer yang cukup bagus sehingga mereka pun akan sangat hati-hati dalam menyeleksi orang. Dalam proses ini, orang tersebut akan dicuci otaknya sehingga mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah kontribusi yang sangat penting bagi berdirinya dawlah Islamiyah atau khilafah versi ISIS;
  4. Proses Travel Arrangement – ini adalah proses dimana orang tersebut akan dituntun untuk keluar dari Indonesia, bertemu dengan handler di negara antara dan kemudian masuk ke daerah yang dikuasai ISIS. Turkey adalah negara antara yang paling sering dipakai sebagai entry point bergabung dengan ISIS karena status Visa on Arrival yang diberikan oleh pemerintah Turkey kepada WNI. Termasuk panduan bagaiman menjawab apabila ditanyakan oleh imigrasi, maupun apabila ditangkap oleh aparat keamanan

Dari analisa Netizen Alto Luger, diatas, dapat kita amati tentang proses cara bergabung dengan ISIS di atas, bisa dilihat bahwa proses seseorang (individu) maupun keluarga yang berangkat dan kemudian bergabung dengan ISIS adalah proses yang panjang, berliku-liku dan memakan waktu yang sangat panjang. Bukan mingguan, tetapi berbulan-bulan. Ini adalah proses yang diambil lewat perenungan dan perencanaan yang matang

Dari dua point di atas, bisa disimpulkan bahwa keluarga (laki-laki, perempuan dan anak-anak) asal Indonesia yang ditangkap di perbatasan Syria/Iraq oleh Syrian Democratic Forces (SDF) bukan korban. Mereka berangkat atas kesadaran pribadi dan keputusan yang diambil adalah keputusan yan sudah melalui proses di atas. Jadi bahwa mereka mengatakan diri sebagai ‘korban’ bisa jadi merupakan bagian dari jawaban yang sudah dipersiapkan di fase ‘travel arrangement’.

Yang mana hal itu menjadi bagian dari ‘defense mechanism’ yang sudah dipersiapkan oleh keluarga-keluarga simpatisan ISIS asal Indonesia ini, membungkus diri sebagai korban ISIS  merebut predikat yang lebih layak disandang mereka-mereka warga Suriah dan Irak yang menderita bahkan kehilangan nyawanya karena tidak punya pilihan selain ikut ISIS atau mati.

Untuk itu pemerintah Republik Indonesia sepertinya harus bekerja ekstra agar jangan tertipu atau tersusupi sinetron ‘Korban ISIS’ yang sedang dimainkan orang-orang Indonesia simpatisan/anggota ISIS yang tertangkap di Syria dan sedang diproses untuk dikembalikan ke Indonesia. Sebab bukan satu dua kasus lagi, melainkan cukup banyak, para ‘alumni ISIS’ yang kembali ke negaranya melakukan serangan terorisme di negara yang telah mengampuninya. Tak perlu jauh mencari contoh, dalam serangan terorisme terakhir di negara ini, pelaku pembunuhan anggota Poldasu di Medan adalah juga simpatisan ISIS dan pernah ‘berguru’ ke tuannya di Suriah. (5)

Untuk itu negara perlu memikirkan ulang akan dampak negatif jangka panjang yang akan ditularkan oleh orang-orang yang ingin kembali karena terpaksa ini, bukan Kecintaan terhadap Indonesia.

Segala sesuatu memang berpeluang, berpeluang mereka menjadi warga yang baik, tetapi juga berpeluang bahwa mereka akan menjadi semakin liar dan semakin menggurita dalam menghianati negara.

Daftar Sumber

  1. http://internasional.kompas.com/read/2017/06/24/06023791/wni.di.wilayah.isis.sakit-sakitan.kami.ingin.kembali.ke.indonesia
  2. http://nasional.kompas.com/read/2016/10/28/13523171/400.wni.pendukung.isis.akan.pulang.ke.indonesia.ini.langkah.bnpt
  3. https://www.facebook.com/alto.luger/posts/10213305306208860
  4. https://news.vice.com/video/the-islamic-state-full-length
  5. https://nasional.tempo.co/read/news/2017/06/25/063887235/pelaku-teror-polda-sumut-ternyata-pernah-ke-suriah
Share Artikel ini!
  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*