Main Menu

Kemiskinan Sosial

Sama Renta dan Tinggal Serumah, Tiga Mbah di Ponorogo Terlantar

Mbah di Ponorogo

Kehidupan tiga orang sepuh mendadak viral di medsos dengan topik tiga mbah di Ponorogo.

Kondisinya yang sudah renta, pikun dan tidak mampu melakukan aktivitas, membuat warga Dusun Ngadirogo Wetan, Desa Blembem, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur ini hanya mengandalkan pemberian tetangga.

Bahkan sekadar alas tidur pun tidak ada. Yang ada hanya dipan bambu dengan tikar sebagai alas.

Saat udara dingin menyerang, ketiganya hanya mengandalkan kain jarik atau selembar kain batik sebagai selimut. Beberapa baju tampak berantakan tak terurus karena tak adanya lemari.

Ketiganya hanya tinggal di bangunan seluas 8×6 meter persegi dengan dinding anyaman bambu yang sudah reyot. Bahkan dinding-dinding kelihatan celah dan berlubang.

Ketiga Mbah di Ponorogo tak Punya Keturunan

Di dalam rumah sederhana ini tidak ada perabotan yang mencolok, hanya ada lima dipan bambu yang sudah lapuk dan kasur tipis yang dipakai Mbah Brontok yang kini sedang sakit.

Pun juga ada satu meja yang digunakan sebagai tempat menaruh makanan yang diberi tetangganya.

Dalam satu ruangan yang difungsikan sebagai tempat tidur, makan dan menerima tamu ini hanya ada selembar tikar usang yang dipakai duduk oleh ketiga mbah ini.

“Aku turune neng amben kae (Saya tidur di dipan tengah),” tutur Mbah Sukir saat ditemui detikcom di kediamannya, Kamis (18/1/2018).

Dalam kesehariannya, Mbah Sukir yang mengalami rabun akibat katarak bertugas merawat Mbah Brontok, yang tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Sedangkan Mbah Sarno masih bisa bertani di halaman rumahnya dengan menanam bayam atau jagung.

“Mbah Brontok turune neng kasur iki, Sarno turune neng sebelah yo nek amben tapi gak enek kasure (Mbah Brontok tidur di kasur ini, Sarno tidur di ruang sebelah pakai dipan tapi tidak ada kasur),” jelasnya.

Baca Lagi!   Adopsi Harus Agama Mayoritas Ialah PP Nasional dan Bukan Perda Binjai

“Karena Mbah Sukir dan Brontok tidak punya keturunan dan Mbah Sarno tidak menikah, akhirnya ketiganya hidup seperti ini tidak ada yang merawat,” tutur Sugeng, salah satu perangkat desa kepada detikcom ke lokasi, Kamis (18/1/2018).

Ketiganya, jelas Sugeng, hidup dari belas kasihan tetangganya. Bahkan untuk menjaga ketiga mbah ini, warga secara bergantian setiap malam menunggu di depan rumah.

“Berjaga kalau mbah butuh sesuatu,” jelasnya.

Mbah di Ponorogo
Mbah-mbah di Ponorogo mendadak viral (Foto: Charolin Pebrianti Detiknews)

Ketiga mbah ini semula hidup layaknya masyarakat biasa. Mbah Sukir bertugas memelihara kambing, Mbah Brontok yang satu-satunya perempuan bertugas berjualan di pasar sekaligus memasak. Sedangkan Mbah Sarno bertugas sebagai petani bayam atau jagung.

Namun seiring bertambahnya waktu, ketiganya kini sudah tak mampu lagi bekerja. Bahkan untuk sekadar ke kamar mandi yang berada di luar rumah pun, mereka lebih memilih buang air kecil di dalam rumah.

“Kalau Mbah Brontok masih sehat, beliau yang masak. Karena sejak setahun terakhir mengeluh sakit, akhirnya sekarang hanya bisa terbaring,” ujarnya.

Sejak Viral Bantuan Mengalir Untuk Ketiga Mbah di Ponorogo

Seorang perangkat Desa Blembem, Sugeng mengaku ketiga mbah di Ponorogo ini viral usai ada warga yang mengunggah foto ketiganya saat di rumah.

“Beberapa hari terakhir banyak yang datang ke sini memberikan santunan dan bantuan,” pungkasnya.

Beberapa masyarakat yang simpatik terhadap pasutri, Mbah Sukir (100), Mbah Brontok (110) dan Mbah Sarno (95) adik dari Mbah Brontok, memberikan bantuan bahan mentah seperti beras, mie instan dan telur. Namun, ketiganya juga tak mampu mengolah bahan bantuan tersebut.

Hanya bantuan roti dan air mineral yang langsung bisa dimakan. Bantuan-bantuan itu pun menumpuk di sudut gubuk reyotnya yang berukuran 8×6 meter.

Baca Lagi!   Terlibat Skandal Uang dan Wanita, Uskup Ruteng Undurkan Diri

Rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu banyak sekali celah sehingga saat hujan deras, air pun dengan mudah masuk.

Tak pelak, bantuan yang diberikan warga dalam bentuk mentah seperti beras dan mie langsung disalurkan ke tetangganya untuk dimasak dan memberikan ke tiga mbah-mbah tersebut.

“Biasanya siang dan sore dikasih jatah makan,” imbuhnya.

Namun Sugeng juga menyayangkan sejak beberapa hari terakhir viral, banyak yang memberikan bantuan. Harusnya saat datang melapor ke perangkat desa dan didata.

“Agar bantuannya tepat sasaran, takutnya ada yang tidak beres,” tukasnya.

Dia berharap kepada masyarakat yang datang menolong ketiga mbah ini, melapor dulu ke perangkat desa.

“Dan kalau mau memberi bahan makan mentah harus didata, kalau sekedar roti, gorengan atau makanan siap makan tidak masalah, kan bisa langsung dimakan sama mbah,” pungkasnya.

Kisah penderitaan ketiga mbah, ini membuat geger. Foto-foto ketiga mbah di Ponorogo berusia senja yang hidup mengenaskan itu sempat menjadi viral beberapa hari terakhir di media sosial ©Detiknews.

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*