Main Menu

Legenda Musik Indonesia

Senja Yang Masih Bersinar Dari Sang Legenda Iwan Fals

Iwan Fals

Tak ada yang meragukan penyanyi ini sebagai legenda hidup dunia musik Indonesia, sosok Iwan Fals yang hari ini berulang tahun ke-56, menjadi satu dari sedikit penyanyi yang bisa eksis di berbagai generasi.

Nama panjangnya adalah Virgiawan Listianto yang lahir di Jakarta pada tanggal 3 September 1961.

Sang ayah ternyata seorang Kolonel Anumerta dari Jawa yang merupakan anak petinggi pabrik Gula di Jawa Tengah, sedangkan sang ibu berasal dari Tasikmalaya.

Biarpun berasal dari keluarga yang berada, Iwan muda tetap nekat bekerja untuk mencari uang sendiri dari hasil keringatnya.

Titik Nol Iwan Fals

Diusia 13 tahun, Iwan Fals malah mengamen di Bandung dan suka menciptakan lagu. Selain mengamen, Iwan Fals pernah menjadi supir sebagai pekerjaan sampingannya.

Iwan Fals mulai mengamen di jalanan, hajatan dan di pasar kaget di dekat Blok M, Jakarta.

Iwan Fals memilih menikah di usia muda. Ia menikahi Rosana atau yang akrab dikenal dengan Mbak Yos pada tahun 1980 dan menghidupinya dengan jerih payah mengamennya.

Meski sibuk mengamen, Iwan Fals juga tak lupa akan ilmu pengetahuan karena dia lulusan dari Institut Kesenian Jakarta.

Jerih payah dan ketekunannya pun mulai berbuah ketika ia mendapat ajakan produser masuk dapur rekaman perdananya. Bahkan Iwan Fals bersedia menjual sepeda motornya untuk biaya rekaman album tersebut.

Musisi yang diidolakan oleh Iwan Fals adalah Bob Dylan. Seorang musisi legendaris asal USA. Hingga tak heran bila Iwan Fals mulai menyukai musik asli dari USA yaitu musik Country.

Totalitasnya terlihat dari catatan bahwa ia pernah menjadi juara Festival musik Country.

Selain itu, Iwan Fals juga sempat ikut festival musik Humor di mana saat itu Iwan Fals bertemu dengan tiga penyiar dan pelawak Indonesia yang terkenal yaitu Pepeng, Krisna dan Nana Krip yang kemudian membantunya masuk dapur rekaman.

Baca Lagi!   Mengenal Nurtanio, Mimpi dan Semangat di Tengah Keterbatasan

Band atau grup pertama Iwan saat itu bernama Amburadul, yang ternyata perjalanan karir band tersebut memang amburadul,  dengan label rekaman pertama ABC Records.

Label ini menaungi langkah awal Iwan di dunia rekaman dan merilis album kembar Iwan Fals berjudul Yang Muda Yang Bercanda I dan II di tahun 1978.

Iwan Fals dan Lagu-lagu  Kritik Sosial

Memang tak salah ia mengidolakan Bob Dylan. Sebab Bob terkenal sebagai pencipta lagu-lagu bernuansa sosial, politik, spiritual dan jarang menciptakan lagu percintaan.

Awal kesuksesannya dimulai dari album Sarjana Muda tahun 1981 yang melahirkan banyak lagu hits antara lain “Sarjana Muda”, “Oemar Bakri”, “Ambulance Zig-Zag”, “Puing” dan “Yang Terlupakan”.

Di album itu Iwan Fals menggandeng pemusik Jazz terkenal asal Indonesia yaitu Lulu Purwanto. Begitu juga dengan Idris Sadri bersama biolanya di lagu “Oemar Bakri”.

Akan tetapi kesuksesan album tersebut membawa babak baru bagi perjalanan karirnya. Keberanian yang ia tampilkan dalam lirik-lirik bernada kritik sosial di album tersebut membuat marah pemerintah.

Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto dan terkenal represif akhirnya mencekal album itu karena dianggap menghina pemerintahan.

Iwan Fals dianggap berani melawan orang nomor satu di Indonesia saat itu. Lagu sindiran dari Iwan membuat panas kuping Pak Harto yang kepemimpinannya tak tergoyahkan selama 32 tahun.

Walhasil ia sempat ditahan selama dua minggu. Keluarganya pun tak luput dari teror.

Dengan penggemar yang masih sedikit, banyak orang yang mencemooh Iwan dan menganggapnya sebagai pembangkang.

Namun keterkenalannya justru bermula dengan citra itu, di mana di kemudian hari ia begabung dengan grup Swami  dan membentuk Kantata Takwa.

Bersama Swami, Iwan Fals kian berani melawan pemerintahan dengan lagu-lagu legendarisnya seperti “Bento”, “Bongkar”, “Badut”, “Bunga Trotoar”, “Oh Ya…”, “Condet”, “Potret” dan sebagainya.

Baca Lagi!   Asian Games ke-18, Indonesia Sukses Penyelenggara, Sukses Prestasi

Lagu-lagu  yang mengingatkan penikmat musik akan lagu-lagu Bob Dylan yang juga gemar mengkritik pemerintahan.

Puncaknya saat Kantata Takwa dibentuk bersama Setiawan Djody, Sawung Jabo, W.S. Rendra dan Jockie Surjoprajogo.

Hampir semua lagu di album Kantata Takwa itu menjadi hits dan disukai para penggemarnya. Mereka berhasil menggelar konser terbesar se-Indonesia saat itu, walau perjalanan karir Kantata Takwa sendiri tidak mulus.

Setelah itu Iwan Fals berduet dgn Franky Sahilatua untuk menyuarakan orang-orang miskin lewat lagu-lagu  “Terminal”, “Orang Pinggrian”, “Di Bawah Tiang Bendera” dan lain-lain.

Anugerah Majalah Time  Untuk Iwan Fals

Iwan yang di saat terkenal berpenampilan ala Rocker dengan rambut gondrong dan agak “slengekan” ternyata bukan sebuah kebetulan.

Iwan Fals
Iwan Fals dalam salah satu konser (Foto: Iwanfals.co.id)

Selain karena teman-temannya sebagian besar merupakan musisi Rock, juga tak lepas dari dukungan penggemar musik Rock dan Metal yang berani di saat ia berada dalam tekanan pemerintah.

Hal ini dimaklumi karena penggemar aliran musik lain masih takut kepada aturan ketat dari Soeharto.

Sekarang seniman ini bak seorang Raja bagi semua musisi di Indonesia dan penggemarnya yang bernama OI (Orang Indonesia) sangatlah banyak di Indonesia.

Oleh karena itu Majalah Time Asia menganugerahkan  penghargaan “Asian Heroes” untuk musik dan pengaruhnya pada publik .

Meski tak lagi secerah di masa mudanya, Om Iwan  masih memancarkan sinarnya di jajaran musisi terbaik Indonesia  sampai generasi sekarang ini.

Tak sedikit musisi muda mengajaknya berkolaborasi dan menaruh hormat kepadanya. Demikian pula dengan pamornya di depan netizen generasi sekarang.

Hal itu terlihat dari jumlah likers-nya di Fanpage Facebook yang sudah melebihi 7 juta likers, bahkan beberapa orang penggemarnya setuju mencalonkanya sebagai Presiden RI.

Kepopuleran dan fanatisme OI  seakan bisa mengalahkan pemimpin mana pun di Indonesia, karena konser Iwan Fals selalu dibanjiri fans fanatik OI yang datang dengan sukarela.

Baca Lagi!   Mengenang Kisah Tionghoa Punggawa Piala Thomas Di Reformasi 1998

Meski ia bukan musisi Rock, tapi lirik-liriknya mencerminkan tentang musik Rock yaitu blak-blakan dan apa adanya.

*Artikel ini adalah saduran dari artikel Iwan Fals page Kenangan Rock dengan perbaikan teknis tanpa mengurangi esensi tulisan.

[widgets_on_pages id=”1″]

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*