Main Menu

Jalur Kedatangan Penghuni Indonesia

Sekolah Guru Kebinekaan 2017, Suku Yang Paling Indonesia

Sekolah Guru Kebinekaan yayasan cahaya guru

Oleh Sahat Siagian

Kita sudah lama tahu bahwa tidak ada suku asli Indonesia. Tapi sebelumnya, kesepakatan itu cuma bernada mitos, cuma “katanya”, cuma berbekal ekskavasi gua-gua dan temuan fosil purba. Sampai kemudian Herawati Supolo-Sudoyo berkeliling Indonesia. Dia mengunjungi berbagai suku, masuk ke belantara manusia di sudut-sudut Nusantara, mengumpulkan air liur mereka dan membawanya ke lembaga Eijkman untuk diteliti melalui kerja pemetaan DNA.

Lalu terbitlahlah konklusi mutakhir berbekal pemetaan yang sahih secara saintifik, bahwa memang tak ada manusia asli Indonesia yang lahir bersama munculnya Indonesia. Kita cuma bergerombol migran dari seberang lautan, seberang benua, yang merambat dari pulau ke pulau, benua ke benua.

Sebagian datang dari India, sebagian lagi dari Taiwan, sebagian Mongolia, dari Myanmar, dan dari banyak lagi. Namun induk dari semua itu adalah Afrika. Di sanalah Adams and Eves bermula. Lalu oleh tantangan alam berupa penyakit, serangga, ketidakseimbangan ekosistem, mereka bermigrasi untuk mencari alam yang lebih “ramah”.

Tak ada pendatang Afrika asli di Indonesia. Penyebar pertama bergerak ke berbagai tempat. Oleh alam mereka dibentuk untuk menghasilkan ciri fisiologis, yang perlahan-lahan semakin berbeda dari bentuk asal. Bentuk rahang berubah oleh karena makanan.

Demikian juga dengan warna kulit, tinggi tubuh, perangai, kecerdasan, dan lain-lain. Kembali oleh tekanan alam mereka bergerak ke daratan yang lebih ramah. Sebagian dari penyebar generasi-generasi ini berjumpa, kawin-mawin, menghadirkan ciri fisiologis berikutnya. Demikian terus-menerus hingga hari ini.

Bagian barat Indonesia, kata Herawati, berasal dari daratan Cina; yang di timur dari Afrika. Meski semua sebetulnya berinduk ke para Adam dan para Hawa di Afrika, namun gradasi keafrikaan kita berbeda oleh panjangnya rantai perubahan. Yang di bagian timur Indonesia mengalami lebih sedikit perubahan alam karena itinerary mereka lebih pendek, misalnya: Afrika–daratan1–Indonesia. Mereka yang sekarang mukim di bagian Barat menjalani itinerary (red: perpindahan/ berkeliling) yang jauh lebih panjang, melewati pembentukan fisiologis yang terjadi di alam Eropa, lalu alam Cina, lalu Asia Tenggara, lalu Indonesia.

Profesor Herawati Supolo-Sudoyo menjelaskan itu dengan lincah dan renyah dalam sesi pertama kelas Sekolah Guru Kebinekaan, hari Sabtu kemarin (08/07/2017). Ini acara yang dihelat sang adik, Henny Supolo, melalui Yayasan Cahaya Guru. Dalam acara itu saya tercenung bermenit-menit oleh jawaban Herawati atas pertanyaan seorang guru di sesi tanya-jawab yang dipandu dengan rileks oleh George Sicillia: “Suku mana sebetulnya yang paling Indonesia?”

“Orang Papua,” jawab Herawati tenang tanpa intonasi sama sekali, “merekalah yang pertama tiba di bumi Indonesia.” Dan saya nyaris mati lemas membayangkan Papuan yang paling Indonesia itu hari ini merasa paling tidak-Indonesia atas perlakuan Indonesia kepada mereka selama sekian dekade.

Herawati dan Henny berada dalam daftar saya tentang perempuan “sinting”. Yang satu berkelana meneliti keragaman Indonesia, yang satu lagi mengumpulkan para guru dari seluruh Indonesia bertemu, belajar dan mengajar dalam kelas Sekolah Guru Kebinekaan.

Tapi, setelah sempat tersima selama sekian jam, akhirnya saya terganggu juga oleh “kesintingan” perempuan. Hari Sabtu itu terbuktikan bahwa konstribusi kromosom Y terhadap keterbentukan seorang manusia makin hari makin kecil. Hal itu mengonfirmasi postulat Muna Panggabean (istri penulis) bahwa kecerdasan anak-anak saya diturunkan olehnya, bukan oleh saya.

Di depan para perempuan perkasa itu saya merasa tak lebih dari seorang pejantan. Dan atas rundungan ganas itu saya tak berselera lagi mengunyah kredo terbaru yang dilansir Herawati: Genneka Tunggal Ika–beragam gen namun satu di dalam Indonesia.***

Artikel ini juga sudah dimuat di status  media sosial facebook milik penulis Sahat Siagian

Share Artikel ini!
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*