Main Menu

Menuju Pemilu 2019

Pileg Lebih Rawan Dari Pilpres, Prediksi Kapolri Tentang Pemilu 2019

Pileg

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Pileg 2019 atau Pemilihan Anggota Legislatif  lebih rawan daripada Pemilihan Presiden (Pilpres). Hal ini karena 16 partai politik akan bersaing untuk lolos dari ambang batas parlemen.

“Yang kita perhatikan, rawan bukan Pilpres tapi Pileg. Semua ingin survive, ingin terpilih. Jadi bertanding di dapil masing-masing dengan calon partai lain.

Pertarungannya mungkin keras,” kata Kapolri di PTIK, Kemayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Pileg Lebih Rawan

Menurut Tito, pertarungan menjadi sengit karena jika partai tidak melampaui ambang batas parlemen maka partai tersebut tidak bisa ikut Pemilu selanjutnya.

“Kedua, partai akan berusaha caleg lolos supaya lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen) yang 4 persen. Kalau tidak lolos, partainya bubar,” ujar dia.

Pada Pemilu 2019, pelaksanaan Pilpres dan Pileg serentak dalam satu hari. Namun, Kapolri menganalisa partai akan lebih fokus mengurusi Pileg.

“Saya lihat, parpol akan fokus lebih berat ke parliamentary threshold daripada pemenangan presiden dan wakil karena ini survive partai. Kalau publik lebih ke presiden

wakil presiden,” kata Tito.

Sementara itu, ada daerah yang dianggap rawan dan menjadi fokus perhatian. “Papua masih jadi atensi kita,” kata Kapolri.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta masyarakat untuk membantu meredam konflik saat Pemilu 2019. Tito mengimbau ada deklarasi-deklarasi pemilu damai.

“Namanya juga demokrasi ibarat mesin, dia harus panas, tapi jangan terlalu panas. Maka ada cooling down. Itu harus diaktifkan. Polri, TNI, ASN, Ormas, tokoh-tokoh yang

peduli untuk tidak terjadi konflik. Kita dorong keluarkan narasi, keluarkan statement deklarasi pemilu damai,” ucap Tito kepada wartawan di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Pileg Yang Aman

Sementara untuk masalah pengamanan, TNI-Polri sudah membuat kesepakatan bersinergi. Hal ini guna menciptakan Pemilu yang nyaman.

Baca Lagi!   TNI Setu Siap Bimbing Nasionalis Muda

“Polri dan TNI rapatkan barisan sebagai dua komponen penting bangsa ini. Apalagi, Polri dan TNI tidak punya hak pilih. Kita harap bisa maksimalkan pengamanan agar pesta demokrasi ini jadi pesta untuk rakyat, untuk memilih wakil,” ucap Tito.

Pileg
Pileg

Selama pengamanan Pemilu atau Operasi Mantap Brata, TNI-Polri akan operasi gabungan. Jajaran TNI-Polri di daerah akan turun bersama.

“Bagaimana kita buat rencana operasi bersama. Sinergi kewilayahan bersama Polda, Kodam, Korem. Membuat rencana operasi bersama, simulasi,” ucap Tito.

Baca juga: Diungkit Ridwan Kamil, Begini Aksi Sandi Kampanye di Pilkada 2018

Selain itu, Tito mengingatkan kepada jajarannya untuk tetap netral dalam Pemilu. Polisi tidak boleh berfoto dengan peserta Pemilu.

“Pilkada juga kita buat maklumat, Panglima keluarkan maklumat, Kapolri keluarkan maklumat, ada sanksi. Tidak boleh berfoto dengan pasangan calon, misalnya. Ikut kampanye dan lainnya. Sanksi bisa dimulai dari teguran demosi sampai dipecat,” kata Tito ©detiknews.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*