Main Menu

Menjaga Kebhinekaan dari Philetisme

Philetisme , sebuah Pandangan berbahaya dalam kebhinekaan

philatisme adalah pandangan agresif yang berbahaya

Philetisme adalah Pandangan Agresif Berbahaya Bagi Kebhinekaan

Philetisme adalah paham yang mengutamakan kelompok sendiri dan merendahkan kelompok lain. Istilah dalam Gereja Ortodox ini secara umum mungkin dikenal dengan chauvinisme.

Chauvinisme sendiri memiliki pengertian kesetiaan dan keyakinan pada satu paham tanpa mau mempertimbangkan pandangan lain sebagai alternatif. Chauvinisme adalah pandangan agresif yang sangat berbahaya.

Philetisme sendiri secara konseptual berangkat dari pengertian Only “Our Tribe” Counts or Counts First – Philatism or literally “Our Tribe” refers to seeing the Golden Rule in terms of one’s own.

Philetisme ini adalah sikap hanya percaya dan mengannggap satu pandangan saja tanpa memikirkan baik buruknya pandangan lain.

Sebagaimana diterangkan oleh Pendiri dan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia, Romo Arkhimandrite Daniel Bambang Byantoro, Ph.D, dalam seminar sehari tentang Kebhinnekaan dan Stigma Kafir dalam Konteks Kebangsaan Indonesia, di Wisma Kinasih, Minggu 16 Juli 2017.(1)

Philetisme Pandangan Agresif Berbahaya
Romo Daniel (kiri), Bambang Noersena (tengah) dan Edi Marlon Manik (kanan)

Philetisme adalah sebuah paham berbahaya yang mengutamakan satu identitas baik suku, agama, ras atau golongan dengan merendahkan suku, agama,ras dan golongan atau kelompok lain.

Hal yang berbahaya bagi kebinekaan Indonesia. Sebab perendahan identitas lain merupakan bentuk arogansi sosial yang tak akan bisa mewadahi terciptanya rasa kepemilikan dan persaudaraan pada kelompok lain yg berbeda.

Merasa kelompok dan agamanya lebih bernilai lebih berjasa lebih berkualitas secara terbuka justru akan menimbulkan persaingan dan permusuhan yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Ini tentu saja bertentangan dengan semangat kebinekaan dalam konteks kehidupan bersama dalam keberagaman. Tidak ada lagi kita melainkan kami. Yang ada hanya kecurigaan dan persaingan.

Philetisme sebabkan kehancuran dalam Sejarah Dunia

Merunut pada sejarah peradaban modern saja, telah banyak wujud dari monster pemahaman berdasar Philetisme yang terus berkembang menguasai pikiran manusia.

Persaingan manusia memang tak terelakkkan namun sebagai manusia beradab tentunya persaingan itu tak boleh melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan dasar.

Baca Lagi!   Cek Fakta Tentang Klaim Prabowo Bahwa Indonesia Bubar 2030

Nilai kemanusiaan untuk tak memperlakukan orang lain atau kelompok lain sebagai tak ingin mengalami perlakuan sama dari golongan lain. Namun keserakahan membuat manusia kehilangan kemanusiaan, Philetisme yang berkembang ini menjadi pemicunya.

Ada beberapa cabang dari pemahaman Philetisme ini. Dalam peristiwa besar bisa kita sebutkan misal beberapa penganiayaan dan pembunuhan massal.

Philetisme dalam peristiwa Genoisida

Genosida Armenia, dikenal pula sebagai Pembantaian Armenia dan oleh bangsa Armenia disebut Kejahatan Besar adalah pemusnahan sistematik oleh Utsmaniyah terhadap penduduk minoritas Armenia di tanah air historis mereka di kawasan yang kini menjadi Republik Turki.

Peristiwa ini terjadi selama dan setelah Perang Dunia I dan dilaksanakan dalam dua tahap: pembunuhan besar-besaran penduduk pria dewasa melalui pembantaian dan kerja paksa, dan deportasi perempuan, anak-anak, dan orang tua dan orang sakit pada perjalanan maut ke Gurun Suriah.

Jumlah korban yang tewas akibat peristiwa ini diperkirakan antara 1 hingga 1,5 juta. Kelompok etnis penduduk asli dan Kristen lainnya seperti bangsa Assyria, Yunani dan kelompok-kelompok minoritas lainnya juga menjadi sasaran pembantaian oleh pemerintah Utsmaniyah.

Perlakukan terhadap mereka oleh banyak sejarawan dianggap sebagai bagian dari kebijakan genosida yang sama. Hal pembantaian ini terjadi karena paham chauvinisme berdasar keimanan yang merendahkan kelompok lain berdasar pada agresivitas.

Philetisme membawa panji agama dan perendahan bangsa lain yang tidak patuh pada kekuatan politik yang memiliki kuasa. Bila paham ini tumbuh dan berkembang di Indonesia maka akan sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat di negeri ini

Pembersihan etnis Raja Leopold II di Afrika philetisme kapitalistik

Raja Leopold II bagian dari sejarah panjang sejarah kolonialisme, imperialisme, perbudakan dan genosida di Afrika khususnya di daerah Kongo (sekarang).

Bentuk philetisme atau chauvinisme yang dibawa raja leopold berdasar pada motivasi eksploitasi manusia karena menganggap rakyat Kongo merupakan budak untuk memenuhi keuntungannya.

Baca Lagi!   Mekanisme Sumber Gempa Bumi Yang Melanda Sejumlah Daerah

Raja Leopold II menggunakan tenaga rakyat Kongo dan diperbudak untuk mengekstrak sumber daya Kongo dan baik barang atau bidang jasanya. Pemerintahannya telah berjaya melalui kamp kerja, mutilasi tubuh, eksekusi, penyiksaan, dan membentuk tentara pribadi untuknya.

Holokaus Philetisme oleh Nazi

Di masa perang dunia kedua peristiwa ini sudah disampaikan baik literatur akademis maupun sejarah populer. Yakni tentang kekejaman yang menjadi buah sisi chauvinisme dalam ideologi politik Nazi.

Diperkirakan sekitar enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman Nazi.

Dipimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi. Beberapa pakar berpendapat bahwa definisi Holocaust harus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan orang dalam kelompok lain.

Selain Yahudi, di antaranya orang Rom, komunis, tawanan perang Soviet, warga Polandia dan Soviet, homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa dan musuh politik dan keagamaan lainnya, yang menjadi korban terlepas apakah mereka berasal dari etnis Jerman atau bukan.

Philetisme Fasis Italia

Sejalan dengan chauvinisme politik dengan Nazi dibawah pemerintahan Hitler. Di Italia juga terdapat sebuah pemahaman yang merendahkan rasa kemanusiaan berdasar politk. Yakni semua paham Fasisme Italia. Ideologi ini dikaitkan dengan Partai Fasis Italia di bawah kepemimpinan Benito Mussolini.

Fasisme Italia berakar dari nasionalisme Italia dan keinginan untuk merestorasi dan memperluas wilayah Italia, yang dianggap penting oleh para fasis untuk menegaskan keunggulan dan kekuatan bangsa dan menghindari keruntuhan.

Philetisme di Asia Oleh Jepang

Indonesia dan negara-negara Asia yang menjadi korban kolonialisme adalah bukti nyata sebagai buruknya pengalaman menjadi bagian dari strata paling rendah dalam sistem ini.

Baca Lagi!   Fahri Hamzah Tengahi Perdebatan dan Sarankan Anies Tiru Ahok

Jepang sebagai bagian dari Poros As di perang dunia kedua, menerapkan hal yang sama dengan sekutunya Italia dan Jerman di Eropa. Jepang merasa menjadi saudara tua bagi semua penduduk asia khususnya negara yang dijajahnya.

Semua harus tunduk pada kekaisaran Jepang berikut penghormatan pada keyakinan mereka. Hali ini terjadi karena bentuk perendahan pada martabat manusia lain di luar kebangsaan mereka, keyakinan mereka dan ras mereka.

Rasisme dunia adalah juga buah Philetisme

Secara umum sampai saat ini rasisme masih berkembang luas di dunia. Meski telah dikecam dalam standar peradaban sekarang ini, tak bisa dimungkiri bahwa rasisme masih subur baik dalam aspek hubungan sosial, agama ataupun politik.

Philatisme berdasar ras ini mengagungkan manusia berkulit putih atau ras kaukasian lebih tinggi dari yang berkulit berwarna atau gelap. Di masa perbudakan bahkan mereka yang berasal dari ras afrika dianggap bukan manusia.

Semua jejak sejarah kelam di atas hanya merupakan gambaran besar di antara lautan diskriminasi dan chauvinisme manusia. Yakni kembali ke ucapan Romo Daniel, berangkat dari pengutamaan seseorang atau sekelompok orang berdasar identitasnya.

Manusia dianggap dan diukur berdasar identitas yang dibawanya bukan kualitasnya. Sehingga suatu kelompok diistimewakan dan sekaligus kelompok lain direndahkan karena sesuai atau tidak sesuai dengan apa yang menjadi ideal di dalam pikiran si pemberi nilai yang berkuasa.

Hal seperti inilah yang mendasari bercabangnya bentuk-bentuk Philetisme. Romo Daniel mengingatkan bahwa pandangan seperti itu, benih sekecil apapun harus disingkirkan dari pikiran bangsa indonesia yang beragam ini.

Sebab keberagaman ini sangat potensial untuk disusupi dan diracuni paham Philetisme. Dan bila sampai terjadi , maka akan sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia, kebhinekaan Indonesia dan toleransi hidup bermasyarakat yang beraneka ini.

untuk video lanjut silahkan dilihat disini

[widgets_on_pages id=”1″]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*