Main Menu

Daya Tarik Kampung Sawah : Bersaudara, Senyum, Salam, Sapa

Persaudaraan Kampung Sawah : Senyum, Salam, Sapa

Bapak Martin dan Ibu Umi Bersama Tim KiranaMedia

“Saya memperlakukan warga lain, lepas dari agamanya, sukunya, selama tinggal bersama dan hidup berdekatan sebagai saudara sendiri,”

  • Pak Martin Mbakiin : Tokoh Katolik Kampung Sawah –

” Salam, Sapa, Senyum. 3S. itu selalu saya jalankan dalam kehidupan bermasyarakat. Demikian diajarkan orang tua saya. Sehingga kemana-mana pesan itu selalu saya bawa.”

  • Ibu Umi : Tokoh Wanita Katolik Kampung Sawah –

Oleh Baran Batara

Biasanya prasangka buruk hadir karena kurangnya saling mengenal karakter di antara warga lain. Jadi segala asumsi-asumsi timbul. Hal ini biasanya menjadi bahan bakar yang memicu api pertikaian.

“Saya memperlakukan warga lain, lepas dari agamanya, sukunya, selama tinggal bersama dan hidup berdekatan sebagai saudara sendiri,” ujar Pak Martin Mbakiin, tokoh masyarakat Katolik dari Kampung Sawah.

Tokoh yang juga merupakan putera daerah asli Betawi ini mengatakan, perselisihan akan bisa ditekan bila mulai saling mengenal. Dia mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di mana di setiap kesempatan bertemu tetangga, meski belum mengenal dekat, meski hanya berpapasan ia selalu menyapa hangat setiap anggota masyarakat.

Hal itu akan menjadi modal yang baik untuk pertemuan-pertemuan berikutnya. Untuk menjadi bahan obrolan mengakrabkan diri.

“Seandainya bisa saya ingin mengenal seluruh warga negara Indonesia. Sehingga saat kita sudah saling mengenal hal itu tentu akan berdampak positif bagi kehidupan bernegara kita ini,” tambahnya melengkapi pandangannya dalam menjaga dan menjalin keakraban dengan masyarakat berbeda latar belakang di Kampung Sawah, khusunya di lingkungan RT 02.

Senada dengan itu, Ibu Umi menambahkan,

” Salam, Sapa, Senyum. 3S. itu selalu saya jalankan dalam kehidupan bermasyarakat. Demikian diajarkan orang tua saya. Sehingga kemana-mana pesan itu selalu saya bawa.”

Baca Lagi!   Hasil Investigasi Polisi Inggris Di Kasus TKW Parinah Tak Digaji 18 Tahun

Dengan itu maka setiap warga akan semakin terbuka. Ia selalu berinisiatif membuka diri ke warga, menganggap semua sama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, strata sosial, kemampuan ekonomi, semua sama saja.

Kepedulian sosial sebisa mungkin diwujudkan dalam bentuk saling memperhatikan keadaan warga lain. Saling berkoordinasi karena rasa memiliki pada lingkungan baik manusianya maupun kampung sebagai tempat tinggal bersama. Saat ada warga yang kesusahan atau sakit, mereka segera melakukan koordinasi dengan yang lain. Berembuk mencari langkah selanjutnya untuk membantu atau membesuk bersama-sama.

Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan yang berguna bagi kebaikan tempat tinggal. Kerja bakti membersihkan atau membenahi segala sesuatu yang kurang di lingkungan kampung senantiasa dihidupkan, agar menjadi sarana menumbuhkan kerjasama, partisipasi dan kepemilikan yang sama di sesama warga.

Menyaring Pengaruh Buruk

Masyarakat Kampung Sawah sebagai bagian dari kehidupan social modern ini tentu juga tak luput dari terpaan isu-isu yang berkembang. Khususnya isu-isu yang berkaitan dengan segregasi social, baik politik atau agama. Generasi muda yang tingkat emosionalnya belum stabil menjadi sasaran empuk bila tidak diperhatikan.

Menurut Pak Martin, di lingkungannya ia selalu menekankan agar menjadikan nilai-nilai dan cirri khas Kampung Sawah sebagai penyaring dan pembatas dalam mengikuti perkembangan informasi-informasi dari luar Kampung Sawah. Mengutamakan kemaslahatan dan kepentingan kehidupan setempat untuk membahas sebuah wacana. Jangan sampai keadaan dari luar, yang bernuansa memecah, terserap ke kehidupan bertetangga yang beragam itu.

“Sebisa mungkin kita tidak membahas hal-hal itu sebenarnya dalam sosialisasi. Namun terkadang spontan muncul dalam pertemuan-pertemuan. Yang penting adalah bagaimana kita mengakhiri diskusi dengna terbuka. Tidak perlu membahasnya dengan ngotot. Apa yang ada di luar biarlah di luar. Kita menjaga yang ada di sini,” kata Pak Martin menambahkan.

Baca Lagi!   Pemerintah Putuskan Awal Puasa Ramadhan Pada Kamis, 17 Mei 2018

Tak hanya informasi yang beredar lewat media. Warga setempat juga diberi kesadaran bersama untuk memperhatikan lingkungan dari para pendatang. Bukan dalam arti mencurigai negative tapi mengantisipasi ketidakpedulian. Jadi tanpa dikomando biasanya mereka menyapa dan mengajak untuk mengenalkan suasana lingkungan yang memang penuh kekeluargaan tersebut. Saling mengenal ini niscaya akan meminimalisir susupan hal-hal yang tidak diinginkan dan itu sudah kebiasaan dan tradisi di sana.

Beradaptasi Dengan Tradisi

Selain tradisi sosial yang terbangun buah perkembangan kehidupan sosial dalam warna Pancasila itu, warga Kampung Sawah juga diharapkan mampu mengintegrasikan diri pada nilai tradisi budaya yang memang sudah ada di sana. Sebagaimana diketahui bahwa Kampung Sawah merupakan suatu lingungan masyarakat yang berlatar budaya Betawi.

Beradaptasi dengan norma yang berlaku yang dimaksud tidak berarti harus menjadi orang Betawi. Namun memilah dan diiringi semangat menghormati dan menghargai kearifan lokal di kampong itu. Hal itu bisa diimplementasikan dalam lelaku sehari-hari baik dalam cara berkomunikasi langsung atau dalam bentuk penyesuaian ornament dan karakteristik seni budaya setempat. Selama tidak menyalahgunakan maka usaha-usaha mengintegrasikan nilai budaya setempat itu sangatlah baik. Demikian penjelasan Pak Martin.

Maka dari itu pula lah, sebuah ciri Betawi bisa menjadi warna tersendiri pada umat Gereja Katholik Servatius. Mereka coba mengaplikasikannya dalam tata ibadah gereja. Di mana, umat dianjurkan untuk menggunakan pakaian tradisional Betawi dalam mengikuti Ibadah Missa atau kegiatan-kegiatan formal lain sebagai bentuk kebanggaan akan tradisi Betawi di mana mereka tinggal yang juga menjadi bagian dari hidup mereka. Warga Betawi yang beragama lain di Kampung Sawah, khususnya Muslim pun tak mempermasalahkannya karena mereka tahu itu adalah hal baik. Yakni menggunakan pakaian khas Betawi dalam acara keagamaan Katholik.

Baca Lagi!   Mengenal Seni Batu Bersusun Yang Dianggap Mistis Di Sukabumi

Sebab sebagaimana yang dikatakan tokoh-tokoh masyarakat Kampung Sawah secara umum, lintas agama, mereka menyadari bahwa dalam semua agama tujuan utamanya adalah mengajarkan berbuat baik. Sekalipun ada suatu yang buruk terjadi mereka selalu berpedoman bahwa hal itu diakibatkan oleh manusia-manusianya saja yang berpola pikir jahat dan di mana-mana hal itu ada.

Yang perlu menjadi perhatian tokoh dan warga keseluruhan adalah memulai dari bawah, dari hal terkecil dari diri mereka sendiri. Warga harus tahu dan sadar tinggal di mana, menggabungkan diri dan punya kesadaran untuk meneruskan tadisi, terlebih secara khusus tradisi dalam menjaga kerukunan umat beragama yang heterogen itu dalam toleransi, yang sudah menjadi cirri khas dan kebanggaan Kampung Sawah. Yakni tradisi menomorsatukan toleransi agar hidup lebih indah.

 

[widgets_on_pages id=”1″]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*