Main Menu

Terorisme Asean

Pasca Bom Filipina, Pelarian ISIS di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Bom Filipina

Buntut peristiwa seranga Bom Filipina pada akhir bulan juli lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan daerah perbatasan Indonesia-Malaysia kerap kali dijadikan sebagai jalur pelarian bagi kelompok teroris Abu Sayyaf Group (ASG) dan ISIS jika ada gempuran dari pasukan militer Filipina.

Hal itu, kata Ryamizard, pun sudah disampaikan dalam pertemuan dengan Menhan Filipina Delfin N Lorenzana di Manila, Filipina beberapa waktu lalu.

“Jadi perbatasan RI – Malaysia digunakan sebagai jalur pelarian [kelompok ASG dan ISIS] apabila ada gempuran dari pasukan pemerintah Filipina,” kata Ryamizard berdasarkan keterangan resmi yang diperoleh CNNIndonesia.com, Senin (13/8).

Pelarian Pelaku Bom Filipina Isis

Ryamizard mengatakan informasi itu diterimanya dari penjelasan Komandan Militer Angkatan Bersenjata Filipina yang melaksanakan tugas di wilayah Mindanao Barat, Filipina, serta beberapa informasi dari berbagai sumber yang dihimpunnya.

Ryamizard mengatakan kelompok ISIS terus berkembang dan menunjukan eksistensinya sesuai cita-cita teroris untuk mendirikan negara Islam di kawasan ASEAN.

Keberadaan kelompok terorisme itu lantas berpengaruh langsung terhadap ancaman perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu pun mengatakan perkiraan bahwa kelompok tersebut melakukan pengembangan daerah operasi ke arah selatan hingga Malaysia dan Indonesia.

Hal tersebut didasari berbagai peristiwa-peristiwa penculikan penduduk untuk direkrut sebagai simpatisan ISIS telah bergeser ke wilayah Sabah, Malaysia hingga sebagian perairan Indonesia.

“Juga penutupan barter perdagangan di Sandakan, Malaysia menyebabkan kesulitan keuangan kelompok ASG/IS di Filipina Selatan menyebabkan hal ini terjadi,” ungkap Ryamizard.

Melihat ancaman itu, Ryamizard mengatakan pihaknya telah menggandeng Malaysia dan Filipina untuk melakukan kerja sama trilateral berpatroli perbatasan kedua negara.

Hal itu bertujuan agar bekas pejuang ISIS yang ingin memasuki kedua negara tidak bisa secara leluasa mengembangkan jaringannya.

Baca Lagi!   Dua Teroris Susulan Yang Ditembak Mati Polisi Anggota Jaringan JAD

“Untuk bisa melakukan operasi bersama, maka diperlukan suatu latihan bersama ketiga negara RI-Malaysia-Filipina guna membiasakan diri dengan keadaan medan daerah operasi dan peningkatan kemampuan interopebilitas,” pungkasnya.

Serangan Bom Filipina

Terkait peristiwa Bom Filipina, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengaku mendapat informasi bahwa pelaku peledakkan bom di Filipina bukan Warga Negara Indonesia (WNI), melainkan warga negara Maroko.

Bom Filipina
Setidaknya sepuluh orang dilaporkan tewas akibat ledakan dari sebuah mobil di Filipina pada akhir Juli lalu, insiden yang diduga didalangi oleh kelompok militan ISIS.

Sorang WNI sebelumnya diduga terlibat dalam serangan bom mobil yang meledak di dekat pos keamanan militer, Lamitan, Basilan, Filipina Selatan.

“Informasinya adalah warga negara Maroko,” ucap Tito di Monas, Jakarta, Minggu (5/7).

Tito mengatakan bahwa kabar tersebut belum sepenuhnya benar. Dia mengaku masih perlu mengkonfirmasi kepada sejumlah pihak terkait. Pasalnya, selain ada dugaan pelaku adalah warga negara Maroko, ada pula yang menyebut pelaku berasal dari Afrika Selatan.

Untuk itu, Tito menegaskan pihaknya akan terus menyelediki lebih lanjut. Terutama soal kemungkinan pelaku yang terlibat dalam aksi teror di Filipina adalah WNI.

“Kalau enggak salah pelakunya dari Afrika Selatan. Masih kita selidiki. Belum terkonfirmasi,” ujar Tito.

Sebelumnya, terdapat kabar ada WNI yang diduga terlibat peledakan bom mobil di dekat pos militer yang berlokasi di Lamitan, Basilan, Filipina Selatan pada Selasa (31/7). Insiden tersebut juga diduga didalangi oleh kelompok yang terafiliasi dengan ISIS ©Cnn-Indonesia.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*