Main Menu

Merajut Integrasi Melalui Media Kenusantaraan

Kebhinnekaan

Merajut Integrasi Melalui Media Kenusantaraan

Menjalin persatuan dan kesatuan adalah slogan yang sudah akrab di benak masyarakat generasi orde baru. Khususnya yg  mengalamai masa kanak-kanak jauh sebelum era reformasi.

Jika kita ingin menitikberatkan pada isu pentingnya persatuan dan kesatuan, jingle itu selalu hadir mengiringi acara-acara tayangan televisi berskala nasional satu-satunya saat itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Perlahan namun pasti setiap pesan yang disampaikan TVRI lebih mudah meresap ke dalam pemikiran khalayak akibat intensitas dan kelangkaan pilihan lain bagi pemirsa.

Sebagai alat komunikasi pemerintah, tugas TVRI memang menyampaikan informasi tentang kebijakan pemerintah kepada rakyat dan pada waktu yang bersamaan menciptakan two-way traffic (lalu lintas dua jalur) dari rakyat untuk pemerintah selama tidak mendiskreditkan usaha-usaha Pemerintah.

Semua pelaksanaan TVRI baik di ibu kota maupun di daerah harus meletakkan tekanan kerjanya kepada integrasi, supaya TVRI menjadi suatu  media massa yang terintegrasikan dengan baik dengan pemerintah. (2).

Walaupun kenyataannya tentu kita tahu bersama, dari sisi kualitas komunikas, feedback masyarakat pada umumnya lebih bersifat mencari aman ketimbang tulus, akibat represi politik saat itu.

Namun patut diapresiasi kemampuannya menjadi penjaga dan penyubur semangat persatuan dan kesatuan.

Kemudian pada perkembangannya, fungsi media massa yang diemban TVRI mengalami distorsi akibat keberadaannya yg tak bisa dipisahkan dari corong pemerintah itu.

TVRI (bersama RRI) cenderung kaku pada kebutuhan dinamika media massa yg sudah menjadi kebutuhan masyarakat kontemporer.

Tak terkecuali bagi khalayak pemirsa indonesia, sehingga mendukung lahirnya televisi-televisi swasta yg lebih progresif dalam menyajikan informasi dan hiburan. Pelan-pelan khalayak mulai meninggalkan TVRI.

Keadaan tersebut memuncak pada masa reformasi, runtuhnya kekuasaan rezim saat itu ikut menyeret nilai-nilai positif yang berhasil dibangunnya.

Nilai integrasi yg selalu dijaga TVRI ikut memudar. Seolah menjadi simbol pemerintahan represif orde baru dan sarana propaganda ikut menerima getah yg mendegradasi citranya sebagai media massa.

Termasuk nilai-nilai yang dulu melekat padanya, salah satunya persatuan dan kesatuan.

Reformasi dan Pekik Kebebasan 

Meninggalkan tahun-tahun momentum pecahnya reformasi, saat mulai kembali berbenah, Indonesia dihadapkan pada keadaan geger demokrasi.

Terkhusus pada sisi mengutarakan pendapat, beragam nilai dan pemikiran tampil merebut pasar perhatian dan dukungan. Wajah demokrasi sejati tentu sumringah menatapnya.

Demokrasi indonesia kembali pada hakekat kebebasan sebagaimana diatur dalam UUD 45 Pasal 28, yang kemudian dilengkapi dengan pasal-pasal hak asasi manusia pada amandemen keempat UUD 45 tahun 2002. (3)

Namun sayangnya, jika kita harus jujur tak semua pendapat dan pemikiran memiliki semangat yang konstruktif bagi keindonesiaan.

Sengaja atau tidak, banyak yang menjadikan kebebasan berpendapat dan berorganisasi pascareformasi, sebagai ajang pelampiasan dendam pada keadaan politik sebelumnya yang tak peduli bila harus mengorbankan Indonesia.

Saling berebut panggung untuk sumber daya pemirsa yg memang sangat potensial ini. Potensial bagi bisnis, ideologi politik, ideologi sosial atau keagamaan.

Kita coba fokuskan perhatian pada nilai yang tak menjadikan semangat persatuan sebagai orientasi itu. Aneka ideologi, terang-terangan atau tersembunyi telah berkembang terus sepanjang bertumbuhnya reformasi hingga memasuki usia keduapuluh.

Sabuk persatuan perlahan mulai mengendur. Masyarakat kian terpolarisasi, Gaya hidup dan lelaku social mulai berubah ke arah yang lebih buruk.

Saling curiga, saling menjaga jarak, kita pun semakin tidak nyaman dan lepas dalam bermasyarakat. Sentimen suku agama ras dan politik membuat interaksi social lebih banyak berkemas basa-basi yang mulai jengah.

Kemudian muncul sikap menertawakan dan apatisme pada keadaan menjadi hal lumrah. Sebagian besar mencari rasionalisasi untuk tak ada guna tak ada faedah mencampurinya.

Melepaskannya pada pemerintah dan politisi saja. Padahal keadaan itu juga disebakan penyuburan bersama. Memilih untuk saling meledek adalah salah satunya.

Tak pelak ini menjadi dilema bagi kita sebagai pemegang estafet yg harus menentukan sikap untuk menyeimbangkan semangat kebebasan berpendapat dan semangat merajut kembali persatuan bangsa yang kian hari kian rapuh. Bahwa itu bukanlah dua gagasan yg mustahil untuk disandingkan.

Mengemas kembali nilai baik dari masa pra-reformasi, dan menjalinnya dengan semangat kebebasan reformasi adalah tugas yang nyata gagal untuk dijalankan.

Kembali ke saat ini, saat kita merenung apakah ini memang benar, apakah saat pembuatan batas berbalas reaksi yg sama bakal efektif? Tidak, malah sebaliknya.

Indonesia membutuhkan banyak orang-orang yang mampu bebas-politis, yang mampu menajamkan ruang ekspresinya untuk membedakan dimana dan apa yg menjadi prioritas pemikiran dalam spektrum pesan-pesan keindonesiaan.

Oang-orang moderat yang mau dan sedia menerima kenyataan, sejarah dan komposisi Indonesia. Yang mampu menyisihkan ego dan pengalaman subjektif hidupnya untuk menginspirasi dan menebarkan pemikiran yang mampu menjadi lahan subur bagi tumbuh kembalinya kecintaan pada persatuan dan keanekaragaman indonesia.

Menyetujui fakta bahwa merangkul tetap lebih baik. Mereka yang mampu keluar dari sekat ideologisnya untuk melihat lebih luas. Sebab siapa yg diuntungkan dari pola-pola adu kepala banteng seperti itu? Tentu yang menginginkan disintegrasi.

Menyitir adagium politis negara sulit berkembang tentang visi sebuah bangsa, politik rabun jauh sering menjadi hambatan, termasuk Indonesia.

Kita selalu terjebak dalam ketidakmampuan melihat kepentingan yg lebih besar di jauh hari dibanding kepuasan menyampaikan dan meraih keinginan saat ini.

Hal tersebut juga berlaku pada tataran yg lebih sederhana di kalangan netizen baik yg radikalis ekslusif berlatar agama atau suku pun para pemikir bebas saat ini, apapun bendera yang dibawanya.

Kita tergoda pada pemuasan yang tak bernilai investasi bagi persatuan, kebhinekaan dan keindonesiaan.

Sinisme karena keputusasaan

Indonesia tak lepas dari pusaran globalisme. Apa yg bergejolak pada skala global turut memercik ke rumah kita

Gagasan ini mungkin terlalu naif dan normatif bagi mereka yang sudah menganggap nasionalisme sudah bukan bagian penting lagi di daftar prioritasnya.

Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi dalam memandang posisi indonesia dalam globalisme adalah, bahwa kita bukan sekadar konsumen, kita juga memiliki tiket yg sama untuk tampil di panggung globalisme sebagai peserta.

Kenusantaraan memiliki kesempatan yang sama mempromosikan identitas dan nilai-nilainya, sebagaimana ideology-ideologi transnasional lain, yg awalnya bersifat lokal dan khusus.

Nilai-nilai global yang coba ditawarkan saat ini tidaklah bertolakbelakang total atau jauh lebih baik dari nilai-nilai dasar yang sudah terkandung dan bisa direpresentasikan oleh kultur, budaya dan kearifan lokal dan nasional yang telah kita miliki dari dulu.

Pepatah mengatakan rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun sinisme pada keadaan negeri sendiri, yang bermuara pada ketakpedulian, tak jarang muncul akibat dari pembandingan yang kurang tepat semata.

Seperti pepatah acak lain yang berbunyi, kita membandingkan hasil tayang akhir (higlights) negara lain dengan mengabaikan indikator-indikator yang berbeda dengan yang kita miliki.

Warga Indonesia yang akrab-informasi sangat rentan untuk tergoda beragam pemikiran. Entah apapun latar belakang yg mendasarinya, namun perubahan kiblat masyarakat saat ini memang sangat cair, kalau tak bisa disebut lemah dalam kritisme.

Mewabahnya informasi palsu adalah buktinya  (4) dan komoditi utamanya adalah suku dan agama.

Inklusifisme teknologi informasi saat ini telah memberikan kesempatan yang luas bagi setiap insan untuk menampilkan pemikirannya lewat dunia tulisan.

Filter redaksional sudah tak lagi menjadi dominasi para jurnalis profesional untuk bisa mengudara. Perubahan situasi yang menawarkan efektivitas terpaan informasi bukan lagi pada kompetensi melainkan aksesibilitas dan popularitas.

Oleh karena itu alangkah lebih baiknya jika kita urun serta melalui dunia sosial media yang terbukti potensial itu, mengimbangi negativitas pada isu kebhinekaan, memanfaatkan lingkaran kita masing-masing, mengintegrasikannya pada lingkaran yang lebih besar.

Untuk itu maka sangat penting memperbanyak bulir-bulir tulisan argumentasi, narasi-narasi kenusantaraan, karya-karya positif yang bebas-politis tentang keanekaragaman nusantara serta pembasmi informasi palsu yang bertanggungjawab dan sistematis.

Sudah banyak memang komunitas-komunitas yang bergerak dengan nafas yang sama, khususnya yang bergerak di jalur independen dan memiliki keteguhan prinsip, akan tetapi akan semakin baik bila dikembangluaskan warga netizen dalam satu wadah terintegrasi.

Tentu semakin indah bila kita merangkainya dalam media yang fokus pada merajut kenusantaraan.

Catatan penting untuk menjadi perhatian adalah perlunya mengabaikan godaan subjektif lain yang kontraproduktif bagi integrasi itu sendiri.

Sebab satu hal yang perlu diwaspadai, yang kerap menjadi batu sandungan media-media pendatang baru, yg punya perhatian pada masalah disintegrasi serta riuh informasi palsu saat ini, yakni ketika ia terseret dalam godaan dan emosi serta kepentingan yg temporer, baik itu cinta yang berlebihan atau benci yang berlebihan pada nilai tertentu.

Menjalin persatuan dengan ancaman represi politik itu memang mudah, tapi menjalin persatuan dan kesatuan dengan menumbuhkan kesadaran tentu membutuhkan usaha yang lebih. Bisakah kita?

Oleh Baran Batara

Ilustrasi Gambar Kenusantaraan (1)

Daftar Sumber

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_Republik_Indonesia
  2. https://www.scribd.com/doc/40521254/Hak-Asasi-Manusia-Dalam-Amandemen-UUD-1945
  3. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/08/21160841/kenapa.hoax.mudah.tersebar.di.indonesia
  4. Ilustrasi: http://kaltim.tribunnews.com/2016/11/29/apel-nusantara-bersatu-kabag-pemerintahan-jamin-layanan-masyarakat-tak-terganggu

[widgets_on_pages id=”1″]



3 Comments to Merajut Integrasi Melalui Media Kenusantaraan

  1. Para pecinta media utuk merajut integrasi lewat media ke nusantaraan.

    Poinnya bagaimana langkah langkah suatu media dlm merajut integrasibkebangsaan, ditengah byknya disentegrasi dan jg menghubungan antara dana untuk bertahan.

    • Selama tetap konsisten hingga ahirnya terbentuk suatu komunitas yang pada ahirnya peduli tetap dengan kebangsaan, pada ahirnya suatu media juga akan maju, dan bahkan para penikmat beritanya akan loyal, tidak akan beralih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*