Main Menu

Meluruskan Polemik Cocokologi

Membabat Ilalang ‘Gaj Ahmada’

Gajah Mada

Membabat Ilalang ‘Gaj Ahmada’

Apa yang tersisa dari riuh-rendah topik Gajah Mada dalam beberapa pekan terakhir? Sepertinya tidak banyak hal konstruktif yang bisa kita panen. Memang akan terdengar paradoks menginginkan buah-buah positif dari ilalang yg tumbuh. Namun itu adalah sudut pandang. Sebab tidak ada hukum absolut yang menutup kemungkinan sesuatu untuk bisa bernilai sebaliknya. Sekali lagi, dari sebuah sudut pandang yang lain tentunya.

Jika kita membabatnya dengan pisau pengetahuan yang lebih bijak dan bebas nilai, sesungguhnya ada beberapa hal yang bisa kita pelajari bersama dari kehadiran topik cocoklogi Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada yang menyerobot perhatian massa itu. Walau tanpa harus menghakimi mereka yang menolak membuka wacana diskusi lagi dan menganggap semuanya sudah final.

Beberapa fenomena sosial dampak ‘Gaj Ahmada’ yang muncul ke permukaan bagus untuk kita jadikan latihan dalam meningkatkan kecakapan kita sebagai bagian generasi informasi ini. Jadi pembahasan tidak  sekadar berakhir dengan olok-olok, bantahan emosional atau malah yang lebih berbahaya mempercayainya tanpa tanya karena romantisme yang dibawanya dalam kemasan agama.

Berawal dari sebuah klaim yang menjadi viral di sosial media, mengatasnamakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP), sebagaimana telah dibantah Pengurus Daerah Muhammadiyah bahwa hal itu tak terkait dengan lembaganya (2), bergulir sebuah ‘fakta alternatif’  tentang tokoh nusantara yang berasal dari Kerajaan Majapahit, Gajah Mada.

Klaim tersebut menawarkan tafsir sejarah dengan sorotan awal pada ketidakbenaran identitas dari tokoh yang terkenal dengan Sumpah Palapa tersebut. Penggiringan pikiran bagi mereka yang tidak melek-sejarah terasa kuat di sini. Seperti saat si pemula topik berusaha meyakinkan publik bahwa Majapahit itu sebenarnya adalah berbentuk kesultanan, bahwa Raden Wijaya yang mendirikan Majapahit adalah seorang muslim dan yang paling heboh, bahwa Patih Majapahit Gajah Mada bernama asli Syeh Gaj Ahmada.

Dengan kata lain, pihak tersebut mengarahkan telunjuk ke adanya pemelintiran sejarah pada apa yang telah diakui sebagai fakta sejarah dalam literatur resmi Sejarah Indonesia. Kisah sejarah yang telah diajarkan di setiap periode kurikulum pendidikan di Indonesia itu disangsikan kebenarannya. Tapi fakta alternative itu berakhir jadi bahan tertawaan karena redaksionalnya yang tendensius serta penyederhanaan kesimpulannya yang asal-asalan. Meskipun tak menutup kenyataan bahwa di kalangan sejahrawan masih banyak diskusi terkait validitas topik tersebut dari kacamata khusus arkeologi dan belum layak jadi santapan publik.

Dalam dunia akademis, bantah-membantah teori adalah hal wajar. Berpedoman pada sistematika yang harus diikuti, ada metodologi yang harus dijalankan. Bukan benar karena banyak pendukung, atau salah total hanya karena menggugat sesuatu yang telah lumrah. Perkara seperti ini yang lolos dari pegangan seseorang dalam menerima informasi dan memutuskan mengawamkannya. Begitupun sebaliknya, respon emosional terkadang cukup berlebihan untuk menunjukkan penolakan.

Latah dan mudah terpesona memang sebuah karakter sosial yang potensial, mungkin itu sedang dimanfaatkan pengangkat isu ini. Atau mungkin juga berangkat dari sebuah luapan frustasi bahwa kekurangan pihak tertentu dalam membuktikan hipotesis membuat kubu pro-fakta alternatif ini mencoba menarik perhatian. Mengkarbit pengakuan, memanfaatkan keluguan nonakademis, khususnya umat yang kurang kritis. Tapi secara pragmatis semua kemungkinan di balik itu tak lebih penting dari kesempatan yang justru bisa menjalin kesepahaman dan kecintaan pada sejarah Indonesia dengan lebih baik.

Alternatif pemikiran lain tentang Gajah Mada dan peneitian tentangnya oleh seorang penulis memang benar adanya. Yakni berangkat dari seorang yang memiliki pendapat berbeda walau kebenarannya masih sangat subjektif. Namun itu masih bersifat hipotesis dan berkelanjutan, bukan seperti bahasa yang dibangun dalam viral media sosial tersebut.

Sebagaimana dipaparkan peneliti utamanya, Herman Sinung Janutama, seorang praktisi sejarah sekaligus pengarang buku yang menjadi pemicu pro-kontra ini. Ada banyak tendensi bahkan eksploitasi data yang melenceng dari lingkup penelitian di dalam artikel yang menjadi viral di luar kendalinya tersebut. Seperti misal menurutnya, ia tak pernah menyebut Gaj Amada melainkan Gajah Ahmada.(3)

Olok-olok dan Pendapat Populer

Pada umumnya, media arus utama sudah menyajikan klarifikasi tentang klaim penelitian yang menjadi viral itu, namun gaungnya tak seberapa besar dibanding dukungan buta atau euforia ejek-mengejek yang sudah terlanjur beredar. Informasi penyeimbang yang bisa meminimalisir dampak buruk pada tradisi akademis dan kritis ini sepertinya justru dihindari. Baik bagi yang terlanjur gembira dengan ‘berita tidak akurat’ yang diinginkan atau pun yang berkesempatan menertawai  kubu yang percaya itu.

Gajah-Mada
Gajah-Mada (4) : Civilization

Hal ini bisa disebabkan ketidakmautahuan masyarakat, terlanjur menikmati hiburan dan enggan menyampaikan kebenaran karena melepas tanggungjawab untuk itu, atau bisa juga karena kebiasaan kita malas membaca dan memang tak tahu. Pengelompokan pun tak bisa diabaikandi mana mereka sudah saling mencurigai dan menganggap informasi klarifikasi sebagai tidak penting. Bahkan alih-alih portal-portal berita independen begitu menikmati suasana sepertinya ingin mengambil bagian menikmati kue pro-kontra, menggorengnya agar selalu hangat. Mencari cocoklogi lain yang senada untuk melengkapi episode yang sama dalam arus pendapat populer. Sehingga mengarah pada hal-hal memperburuk keadaan, memperlebar ruang interaksi antara kubu-kubu yang berbeda pendapat menyeret identitas secara general.

Sebagai contoh, ada sebuah pendapat berbeda dari Sofia Abdullah (5) Dalam akun sosial facebook-nya, wanita yg mengaku peneliti tersebut mengusulkan agar mengarahkan wacana ini pada sesuatu yang positif untuk dunia arkeologi Indonesia. Ia mengatakan secara arkeologis kedudukan validitas klaim Gaj Ahmada sama dengan teori yang resmi dalam kurikulum. Bahwa keduanya tidak berangkat dari pemenuhan unsur-unsur metodologis dalam studi kesejarahan.

Komentator masih banyak terjebak dalam emosi. Hal itu justru dianggap sebagai pelecehan terhadap keyakinan sejarah sebelumnya. Tuduhan pendapatnya hanya karena bagian dari golongan yang membenarkan klaim ‘konyol’ Gaj Ahmada sebelumnya pun muncul. Harapan akan suasana diskusi yang sehat pun musnah. Terlepas dari kebenaran dan pilihan nada bahasanya usul itu sesungguhnya baik.

Latah Sosial

Kenyamanan untuk menutup pemikiran pada hal lain, sentimen kelompok dan sebuah kesalahan logika dalam tradisi diskusi yang baik yaitu terjebak dalam arus pendapat yang ramai saja membuat gesekan semakin nyata. Apalagi saat wacana tersebut memberi kesempatan menunjukkan kebodohan, kelucuan kelompok yang tidak disukai. Seolah memang menikmati garis batas tersebut, menikmati eksistensi mereka sebagai musuh dalam satu topik. Kemudian berlalu  melupakan saat sudah tak hangat lagi.

Khalayak yang emosional menanggapi topik ‘Gaj Ahmada’ memang tak bisa disalahkan sepenuhnya. Terlebih dengan sumber datangnya topik tersebut. Kelompok yang gemar membuat jengkel para pecinta Indonesia dalam wadah kenusantaraan ini, mereka yang semberonomembagikan informasi-informasi palsu membodohi masyrakat untuk keuntungan pribadi, tanpa memikirkan dampak buruk yang bisa ditimbulkannya.

Pun keluguan dalam menanggapi penolakan pada fakta baru adalah hal lumrah. Pilihan fakta yang mereka jadikan acuan tentu berpegang pada sejarah resmi yang dipelajari dan diketahui sesuai dengan kebenaran versi pihak yang memiliki kredibilitas, dalam hal ini pemerintah Indonesia melalui lembaga-lembaga arkeologi dan penelitian negara.

Beban penelitian tak mungkin diserahkan ke pundak awam. Masyarakat awam hanya menuruti sejarah resmi pemerintah, maka dari itu kritik untuk validitas sejarah Majapahit umumnya dan khususnya tentang Gajah Mada sebaiknya memang didiskusikan oleh para praktisi dan peneliti dengan motivasi yang juga benar-benar bersih dari kepentingan, tidak asal menyebarkannya ke publik. Melepaskan keputusan pada masyarakat dan menyalahkan masyrakat justru mengesankan kegagalan para peneliti dan arkeolog indonesia dalam menyatukan pendapat dan kesimpulan secara metodologis.

Begitupun untuk khalayak warganet, ada baiknya tidak menyebarkan informasi-informasi yang belum memiliki landasan yang kuat untuk ditanamkan pada benak lain. Selain memiliki konsekuensi hukum sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), hal itu juga justru potensial menjadi bumerang bagi kredibilitas identitas yang dibawanya. Terlebih jika sudah sangat tendensius menuduh pihak tertentu melakukan kebohongan dan memperlebar jurang kesenjangan, mengeksploitasi satu kasus sebagai bahan bakar pro-kontra semata untuk keuntungan.

Lompatan-lompatan konklusi dari semua kubu justru tak menyisakan apa-apa selain energi yang terbuang, hiburan sesaat dan garis perbedaan yang semakin tebal. Alangkah  lebih baik bila kontroversi tersebut dijadikan pintu gerbang untuk membuka pengetahuan baru bila memang menarik. Atau sekadar mengagapnya sebagai gambaran fenomena sosial yang nyata dan konyol yang lebih layak untuk ditertawakan sejenak lalu diacuhkan daripada dijadikan ajang menggeneralisasi suatu nilai.

Memperkokoh pengetahuan sebelumnya dengan cara yang benar atau ingin merangsang kritisme dan perhatian pada segala sesuatu yang baru, sejatinya lebih esensial. Namun penyikapan yang baik itu yang harus tetap didasari prinsip tak latah menerima atau latah menolak. Sehigga ilalang yang muncul bisa kita siangi dan menjadikannya sebagai unsur pendukung tumbuhnya semangat baru. Semangat untuk cakap berpendapat, meningkatkan kecintaan pada perkembangan wacana-wacana Nusantara dengan tak menutup pemikiran pada hal-hal baru asalkan bertanggungjawab, atau setidaknya tidak ikut-ikutan konyol berlama-lama.

Oleh : Baran Batara

Ilustrasi Gambar (1) 

Daftar Sumber :

  1. http://kaltim.tribunnews.com/2017/06/19/benarkah-patih-gajah-mada-bernama-asli-gaj-ahmada-dan-beragam-islam-ini-penjelasan-muhammadiyah
  2. http://regional.kompas.com/read/2017/06/18/18444831/penjelasan.muhammadiyah.kota.yogyakarta.soal.gaj.ahmada.yang.viral
  3. https://news.detik.com/berita/d-3536052/penulis-majapahit-kerajaan-islam-jelaskan-cara-penelitiannya
  4. http://www.manapool.co.uk/civilization-v-civilizations-leaders-guide/
  5. https://www.facebook.com/sofia.abdullah.161

[widgets_on_pages id=”1″]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*