Main Menu

Amuk Massa

Main Hakim Sendiri, Masyarakat Latah

Main Hakim Sendiri Ilustrasi

Sebuah peristiwa main hakim sendiri terjadi di Bekasi. Sebelum dibuktikan kesalahannya seorang terduga pencuri dihakimi oleh warga hingga tewas.

Berita ini menjadi viral di media sosial. Di mana seorang pria berinisial MA dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh warga Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi pada Selasa (1/8/2017) sekitar pukul 16.30 WIB.

MA dibakar hidup-hidup karena dituduh sebagai pelaku pencurian amplifier milik mushala Al-Hidayah desa tersebut. Hal ini dikonfirasi benar terjadi oleh Kapolres Metro Bekasi, Kombes Asep Adi Saputra, aksi pembakaran itu memang benar adanya.

Namun tentang kebenaran apakah korban penghakiman massa tersebut adalah mencuri atau tak bersalah masih simpang siur. Sejumlah akun media sosial mengunggah kabar dan foto mengenai pria yang tewas dibakar di Bekasi adalah korban salah sasaran.

Akan tetapi pihak kepolisian mengatakan bahwa pria tersebut memang pencuri berdasar keterangan saksi yaitu marbot dan pengelola mushala yang telah diperiksa, terlepas dari juga menyayangkan terjadinya aksi main hakim sendiri yang dilakukan warga.

Pasca kejadian pengeroyokan dan pembunuhan oleh massa, polisi langsung melakukan olah TKP dan mendapatkan barang bukti. Di antaranya satu unit sepeda motor milik MA. Kemudian, dua unit amplifier di motor tersebut, lalu satu amplifier ada di tas gendong warna hitam.

Asep mengatakan, amplifier yang menjadi barang bukti diakui milik mushala. Bertentangan dengan keterangan yang beredar viral di media sosial melalui akun Yuni Rusmini, bahwa ampli masjid tersebut masih ada.

Korban yang kemudian diketahui merupakan warga Cikarang Utara tersebut kini telah tewas. Tentang kebenaran pastinya masih dalam penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian.

Main Hakim Sendiri
Viral Aksi Main Hakim Sendiri di Bekasi

Seperti yang dikatakan oleh Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito , warga tidak sepatutnya main hakim sendiri. Apalagi perbuatan massa itu sampai mengakibatkan MA meninggal dunia.

Video pembakaran MA akan dipelajari penyidik guna mengidentifikasi warga yang nekat membakarnya. Ia menegaskan, semua yang melanggar aturan ada hukumannya. Warga yang membakar MA akan diproses.

Main Hakim Sendiri Kekecewaan Penegakan Hukum

Asep mengatakan, MA sehari-harinya diketahui sebagai teknisi atau menjual jasa servis barang-barang elektronik. Sebuah tanggapan menarik dari seorang netizen terkait peristiwa ini.

Melalui akun facebooknya, Winston Zippi Yohanes memberi ulasan singkat. Main hakim sendiri merupakan sebuah fenomena yang marak terjadi di banyak negara terbelakang. Indonesia adalah salah satunya.

Meski terkesan biadab serta terlarang dalam agama serta tak bisa dibenarkan, aksi penghakiman massa biasanya terjadi karena kekecewaan masyarakat atas kinerja para penegak hukum, terutama dalam mengatasi masalah pencurian.

Ada empat faktor yang menyebabkan publik main hakim sendiri, yaitu: rendahnya tingkat kepercayaan terhadap aparat hukum akan bertindak adil dan jujur, proses hukum yang mudah diintervensi, banyaknya politisi yang terjerat korupsi; dan maraknya pembiaran dalam penegakan hukum.

Maka menurutnya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa maraknya main hakim sendiri yang seolah sudah menjadi tradisi selama puluhan tahun di negeri ini merupakan refleksi dari ketidakpercayaan terhadap penegakan hukum yang dilakukan negara.

Ironisnya, di sisi lain lemahnya penegakan hukum juga membuat para pelaku kriminal menjadi semakin berani akibat tidak adanya hukum yang tegas serta memberikan efek jera.

Tingginya ketidakpuasan terhadap penegakan hukum ini sejatinya menjadi sinyal kewaspadaan bagi pemerintah maupun Bangsa Indonesia.

Refleksi Masyarakat Latah

Peristiwa ini tentu mencoreng wajah Indonesia, khususnya warga daerah setempat yang melakukan penghakiman massa.

Hali ini juga tak bisa dilepaskan dari wujud sebuah fenomena negatif dari tingkat kritisme warga.

Peristiwa pengeroyokan atau penghakiman massa yang menjalin rangkaian tindakan emosional dan menghilangkan akal sehat kerumunan merupakan refleksi dari masyarakat latah.

Masyarakat yang mudah tersulut untuk mempercayai dan mengikuti sesuatu yang cenderung melanggar hukum saat dilakukan beramai-ramai.

Rendahnya kritisme dan penahanan diri membuat masyarakat gampang terbawa arus populer, meski belum tentu benar.

Selain arus melakukanaksi main hakim sendiri pada seorang terduga dengan mengabaikan aturan hukum berlaku oleh warga Bekasi, dalam kasus simpang siur ini juga terlihat dari kubu sebaliknya.

Tak sedikit warga masyarakat yang meluapkan emosi dengan memaki aparat atau warga hanya dengan mengikuti narasi yang didengar dari satu pihak.

[widgets_on_pages id=”1″]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*