Main Menu

Kematian Bos Playboy

Wajah Wanita Indonesia di Dekade Paling Liar Majalah Playboy

Majalah Playboy

Dalam memoarnya Dari Sukarno ke Soeharto, Marshall Green, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia seakan berkelakar mengatakan bahwa Majalah Playboy yang ada di antara tumpukan berkasnya, merupakan satu-satunya kertas yang aman dari api pembakaran ketika kedutaan Amerika Serikat dalam ancaman kepungan massa anti-Amerika Serikat di awal orde baru.

Awalnya ia mempersiapkan Majalah playboy tersebut untuk memenuhi permintaan Soekarno, sebagaimana pengakuannya. Namun setelah berpikir ulang ia urung memberikannya dan memilih menyimpan saja dikarenakan ketakutan bahwa itu merupakan sebuah jebakan untuknya.

Dalam dua hari terkahir nama pria uzur ini menghiasi hampir seluruh ruang media dunia. Hefner telah tutup usia. Bos dan pendiri Majalah Playboy itu meninggal dunia pada Rabu (27/9) waktu setempat.

Akun Twitter resmi Playboy mengumumkan kabar duka Hugh Hefner. “American Icon and Playboy Founder, Hugh M. Hefner passed away today. He was 91. #RIPHef,” tulis @PlayBoy.

Selama hidupnya, Hugh Hefner juga erat dengan kontroversi, salah satunya adalah menikah berkali-kali dengan model seksi yang jauh lebih muda.

Kematian tokoh ini sontak mengisi hampir semua ruang media massa. Meski kematiannya cukup wajar di usia senjanya, namun kepergiannya tetap

Majalah Playboy Warisan Generasi Baby Boomers

Majalah Playboy menjadi sesuatu yang fenomenal di era generasi yang dikenal sebagai generasi Baby Boomers itu.

Sehingga tak mengherankan bila majalah ini menarik perhatian beberapa tokoh-tokoh dunia khususnya yang peredarannya mengelami pencekalan di negaranya, seperti yang disampaikan Marshal Green dalam memoar pribadinya.

Istilah Generasi Baby Boomers (1946 – 1964) sendiri sebagai ikon yang melekat pada Kelahiran Majalah Playboy tercipta karena latar belakang tingkat kelahiran yang tinggi pasca perang dunia kedua dengan perkiraan jumlahnya mencapai 30 persen dari total populasi.

Baca Lagi!   Kartunis Onan Hiroshi Akui Kesalahan Tentang Kereta Cepat Jokowi

Selain menjadi simbol suburnya jumlah kelahiran, generasi ini juga dikenal melahirkan produk-produk budaya yang menjadi katalisator warna peradaban ke masa-masa berikutnya.

Selain rock and roll yang mulai menandai geliatnya, televisi, perlawanan sosial demokrasi muda dan menjadi pembuka jalan generasi bunga ke dekade berikutnya, masa ini menjadi masa lepas landas sayap liberalisasi di dunia barat.

Majalah Playboy
Hugh Hefner Muda (Via Amazon.Com)

Melalui berbagai bentuk media massa, ide, pandangan dan selera terlepaskan dengan begitu bebas menjalari sisi dunia yang kemudian membentuk budaya populer. Salah satunya adalah Majalah playboy besutan Hugh Hefner.

Majalah Playboy adalah sebuah majalah dewasa yang menjadikan tampilan foto-foto bugil wanita menarik sebagai sajian utama. Majalah Playboy didirikan oleh Hugh Hefner di amerika pada tahun 1953.

“Playboy” bukanlah nama pertama majalah ini. Nama yang pertama digunakan adalah “Stag Party”. Akan tetapi dikarenakan nama tersebut telah digunakan terlebih dahulu oleh majalah dgn nama “Stag” maka Hefner harus mencari nama lain.

Hefner dan sahabatnya Eldon Seller pun memutuskan menggunakan nama Playboy seperti saran Eldon. Alasannya cukup sederhana, saat itu ibu dari Eldon pernah berkerja pada perusahaan mobil yang sudah bangkrut yaitu “Playboy Automobile Company” yang berkantor di Chicago.

Logo yang digunakan adalah kepala kelinci. Menurut Hefner adalah konotasi seksual yang menjadi lelucon dimasyarakat , dan menurut dia kelinci terkenal nakal dan merupakan binatang favorit untuk di ajak bermain.

Transformasi Pose Playmate Majalah Playboy

Majalah Playboy menerbitkan edisi perdananya pada bulan Desember 1953. Edisi pertama ini tidak memiliki tanggal penerbitan karena Hefner saat itu tidak yakin apakah mampu menerbitkan edisi keduanya.

Penyebabnya karena Hefner dan Eldon saat itu tidak memiliki banyak uang untuk membayar model untuk berpose di Playboy. Untuk edisi perdana saja strategi yang mereka gunakan adalah dengan membayar hak cipta foto dari kalender lokal untuk ditampilkan di majalahnya.

Baca Lagi!   Presenter Kuliner Maknyos Berpulang, Selamat Jalan Bondan Winarno

Edisi perdana Majalah Playboy terbit dengan foto kalender artis Marilyn Monroe untuk sampul depannnya. Dan strategi ini sungguh menjadi sensasi saat itu di mana Majalah Playboy habis terjual dalam hitungan minggu.

Cetakan pertama dari edisi pertama tersebut mencapai 53.991 eksemplar dengan harga jual 50 sen amerika. Model yang berpose dalam majalah ini diberinama “Playmate”.

Pada awal penerbitannya pose playmate yang agak “nakal” disajikan dengan cara halus dengan menyiasati pengambilan gambar tersebut dengan muka terkejut para modelnya.

Seperti tertangkap basah sedang berganti pakaian atau keluar dari kamar mandi dengan bagian-bagian tertentu masih tertutup.

Kemudian pada era 1970-an di mana di Amerika sendiri sedang menggema sebuah generasi ‘pemberontakan’ sosial yang dikenal dengan Generasi Bunga.

Di masa ini, peran wanita lebih aktif hadir di ruang publik. Hal tersebut berbanding lurus dengan pose-pose Playmate di dekade tersebut. Isu emansipasi yang berkumandang hadir dalam gaya yang semakin berani dan menantang.

Satu yang paling fenomenal adalah Majalah Playboy edisi Januari 1971. Edisi ini menjadi edisi pertama di mana seorang playmate berani menampilkan bulu kemaluannya.

Model dan artis berkebangsaan Norwegia Liv Lindelan adalah nama Playmate edisi fenomenal tersebut.

Sementara itu edisi untuk tingkat penjualan spektakuler adalah edisi November 1972 yang terjual sebanyak 7.161.561 eksemplar dengan Model Cover Pamela Rawling dengan fotografer Rowland Scherman dan Playmate of the month Lenna dengan fotografer Dwight Hooker.

Playmate Indonesia Pertama di Majalah Playboy

Majalah Playboy
Ratna Assan, Model Playboy 1974. (Foto Historia.id)

Di dekade 70-an pulalah nama berbau Indonesia hadir menghiasi Majalah Playboy. Ratna Assan yang memiliki paras eksotik khas Nusantara menarik perhatian Majalah Playboy dan menggaetnya untuk hadir di lembaran salah satu edisi tahun 1974.

Baca Lagi!   Jonru Ginting, Awalnya Seleb Facebook Kini Terpojok Di Sel Sendiri

Ratna lahir pada 16 Desember 1954 di Torance, California, Amerika Serikat. Ia merupakan anak dari pasangan Indonesia Ali Hasan dan Soetidjah. Ibunya, Soetidjah lebih dikenal sebagai Dewi Dja, seorang penari yang tampil dalam film-film produksi Holywood, seperti diberitakan Histori.id.

Nama Ratna Assan mulai melejit dan menarik perhatian publik hiburan Amerika saat membintangi film Papillon bersama Steve McQueen dan Dustin Hoffman pada 1973.

Film Papillon itu sendiri merupakan film termahal (12 juta dolar) yang diproduksi pada masanya. Di film tersebut Ratna berperan sebagai Zoraima, gadis Indian yang menolong seorang pelarian kriminal Prancis bernama Henri Charriere “Papillon” (Steve McQueen).

Penampilannya yang memukau dan wajahnya yang eksotis itulah yang membuat Playboy terpikat untuk menampilkan Ratna dalam rubrik pictorial setahun kemudian.

“Ratna Assan si butterly girl bukan nama yang akrab, tapi penampilannya bersama Steve McQueen di Papillon menjadikan wajah dan figurnya begitu familiar,” tulis Majalah Playboy edisi Februari 1974.

[widgets_on_pages id=”1″]

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*