Main Menu

Retaknya kemajemukan, Sebuah Perenungan

Kaca Mozaik, Salahkah Engkau???

Kaca Mozaic

Oleh Tony Santoso

Ilustrasi gambar (1)

Secara geografis, Indonesia terletak di Asia Tenggara antara samudra India dan samudra Pasifik dengan bentang 5120 kilometer dari timur ke barat dan 1760 km dari utara ke selatan. Dengan luas yang sangat fenomenal ini, terhitung ada 13466 pulau pulau dan menurut National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN) tercatat ada 18.307 pulau pulau dengan selisih sekitar 800 pulau yakni 17.508 menurut CIA factbook. Indonesia juga menduduki posisi kedua setelah Papua Nugini untuk bahasa daerah terbanyak yakni 442 bahasa dari 1.340 suku bangsa menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kemendikbud di tahun 2012 lalu yang pasti jumlahnya terus bertambah sampai saat ini (1)

Dalam kehidupan sehari hari, keberagaman ini sudah menjadi hal yang sangat umum di era sebelum reformasi. Penggunaan bahasa daerah bagi penutur asli di kota kota besar sangat sering kita jumpai begitu juga dengan beraneka ragam kebudayaan masing masing pendatang yang bisa berakulturasi dengan harmonis di kota kota besar. Ibarat kaca mozaik, masing masing pecahan kaca dengan beraneka ragam menyusun kaca mozaik yang besar yang membentuk pola yang khas dengan warna warnanya yang khas. Indonesia juga kaya akan beragam makanan dan jajan pasar. Tidak ada yang menanyakan darimana makanan atau kue kue itu berasal. Semua rasanya telah menjadi ‘milik’ Indonesia.

Kehidupan beragama di Indonesia juga baik. Banyak tempat ibadah dari agama yang berbeda beda berdiri harmonis berdampingan dan kehidupan umat sedemikian kondusif. Ada pengikat kita sebagai bangsa yang besar yang luar biasa. Sejak kecil, kerukunan inilah yang selalu didengung-dengungkan melalui berbagai mata pelajaran yang mengajarkan akan bagaimana hidup bernegara dan berbangsa.

Baca Lagi!   Mengenal Seni Batu Bersusun Yang Dianggap Mistis Di Sukabumi

Memasuki tahun 1998, nuansa nuansa politik mulai tampak mengental didahului oleh krisis moneter dunia yang mau tidak mau juga menyeret Indonesia dalam kisaran krisis. Akhirnya krisis kita dalam berbangsa juga ikut terseret dalam putaran konflik. Apa yang tampak sangat lumrah menjadi tampak berbeda. Sentimen suku mulai dimainkan pihak pihak yang mempunyai kepentingan politik. Perpecahan di mana mana dan mengakibatkan tenunan kebangsaan kita mulai terkoyak. Tiba tiba saja kaca mozaik dengan perca kaca yang sudah tersusun indah itu menjadi salah. Warna mozaik dipaksakan untuk menjadi seragam, coraknya harus simetris. Tiba tiba saja warna biru dalam kaca mozaik harus dihilangkan dan diganti oleh warna yang dominan. Kita mulai berbicara bahwa indonesia harus seragam.

Kadang kita bertanya tanya kenapa tiba tiba kaca mozaik ini menjadi salah walaupun justru corak dan ragamnya yang berbeda beda justru yang membentuk keindahan. Saya pribadi mengira bahwa penyebabnya adalah kita terbiasa untuk melihat Indonesia apa adanya. Kita tidak pernah diingatkan bahwa justru kita yg berbeda inilah yang membentuk Indonesia yang besar. Berapa kali saya berteman dengan orang Amerika dan bertanya pada mereka apa kebangsaan asli kakek nenek mereka. Mereka biasanya hanya tersenyum dan mengatakan “kami orang Amerika”, walaupun kita tahu bahwa mereka pasti bukan penduduk benua Amerika. Kita terbiasa berbangga diri dengan faktor faktor primordial seperti suku, ras dan lain lain sehingga gambaran wajah Indonesia yang besar menjadi terlupakan. Di satu sisi tentu saja kita harus melestarikan budaya dari suku kita sebagai warisan budaya, tetapi di sisi yang lebih besar kita adalah bangsa Indonesia yang besar.

Hal kedua yang saya perhatikan yang juga turut berkontribusi pada koyaknya tenunan kebangsaan kita adalah kita mulai kehilangan ‘sense of belonging’ yang harus tunduk pada kepentingan kepentingan pribadi kita. Rasanya hidup dari kecil di negara yang gemah ripah loh jinawi ini membuat kita tidak bisa mensyukuri hidup di negara yang sedemikian luas  ini. Kita malah ikut terbawa arus untuk mengikuti jejak negara negara lain yang justru situasi dan kondisinya berbeda. Keadaan ini diperparah oleh adanya pihak pihak yang mempunyai kepentingan untuk memperkeruh suasana di Indonesia untuk tujuan tujuan tertentu. Liat saja anak anak muda zaman sekarang yang merasa lebih bangga untuk membela negara negara lain yang sedang berkonflik daripada mempertahankan keutuhan negaranya sendiri.

Baca Lagi!   Imlek dan Ikan Bandeng Akulturasi Budaya Tionghoa dan Betawi

Waktu saya masih kecil, saya ingat betul bahwa saya harus ikut upacara bendera setiap hari Senin. Waktu itu saya memang sering mengeluh karena udaranya yang sangat panas dan harus berdiri cukup lama. Tetapi saya sekarang merasakan manfaatnya karena ternyata ini merupakan faktor ketiga untuk menumbuhkan rasa kebanggaan kita untuk bernegara. Mengikuti upacara bukan hanya seremonial tetapi lebih dalam yaitu ikut menginternalisasi rasa kita bernegara yg pada akhirnya akan melahirkan generasi generasi muda yang cinta akan negaranya sendiri. Kalau kita lihat upacara bendera sudah menjadi langka sekarang, sehingga rasanya memang ada yang hilang di dalam mendidik anak muda untuk bangga bernegara.

Memang hidup berbangsa dan bernegara adalah upaya membangun karakter yang kuat untuk bangga dan mencintai negara ini sebagai satu kesatuan. Diperlukan sense of belonging untuk bisa mencintai negara ini dan bangga menjadi bagian dari Indonesia. Upaya upaya untuk kembali menumbuhkan kebanggaan juga diperlukan dengan menghadirkan kembali upacara bendera dan pelajaran pelajaran ketatanegaraan dan yang tidak kalah pentingnya adalah jangan melihat Indonesia ‘taken for granted’. Ini adalah negara besar yang diperjuangkan untuk direbut dari penjajah dan keindahan serta kedamaian negara ini harus kita pertahankan dan jangan dianggap sebagai keniscayaan saja. Sebelum terlalu terlambat dan kaca mozaik ini menjadi pecah berkeping-keping, mari kita jaga terus agar tetap ada sinar matahari yg menembus corak dan warnanya yang beragam agar tetap menjadi kebanggaan kita dan dunia.

Video sederhana Kemajemukan bangsa dibawah ini teramat menyedihkan jika kita biarkan retak.

Tidakkah engkau Peduli??? Bangunlah Segera!!

Daftar Sumber

  1. Ilustrasi Gambar : http://kacapatribandung.com/wp-content/uploads/2013/03/kaca-patri.jpg

2. http://nasional.kompas.com/read/2012/09/01/12030360/Mau.Tahu.Jumlah.Ragam.Bahasa.di.Indonesia

  1. Sumber video : https://www.youtube.com/watch?v=BNG4DtRR2Bs


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*