Main Menu

Kebhinnekaan dan Pancasila adalah wadah yang akan menyatukan bangsa kita

Kebhinnekaan dan Stigma Kafir dalam Konteks Kebangsaan Indonesia

Kebhinnekaan dalam Konteks Kebangsaan Indonesia

Kebhinnekaan adalah suatu Pilar yang sangat Penting dalam Konteks Kebangsaan Indonesia. Dikarenakan Indonesia, merupakan Negara yang terdiri dari banyak pulau, suku dan agama.

Keberagaman ini berlangsung terus menerus baik pada zaman Kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, pada masa kemerdekaan Republik Indonesia hingga saat ini, Indonesia tetap merupakan Negara yang sangat majemuk baik dari suku bangsa, agama, budaya dan Bahasa.

Indonesia tidak pernah menjadi Negara yang homogen dalam artian yang hanya terdiri dari satu agama, satu budaya maupun satu suku.

Karena kemajemukan ini, maka Indonesia, tidak akan bisa dijalankan atas dasar salah satu agama ataupun budaya dan kesukuan.

Kebhinnekaan dan Pancasila adalah Pilar yang bisa mewadahi bangsa Indonesia yang majemuk

Ditengah maraknya gerakan-gerakan yang anti terhadap toleransi, anti terhadap Ideologi bangsa Indonesia ini, dan semakin banyaknya pemuda bangsa yang luntur semangat kebangsaan dan kecintaannya terhadap Negara dan kemajemukannya, maka kita perlu mengingat kembali perjuangan para Pendiri bangsa, bahwa kita hanya bisa diikat dan disatukan dengan Pilar Kebhinnekaan dan Dasar Negara Pancasila.

“Saya kira Negara kita ini, sedang dalam Persimpangan Jalan, dengan banyaknya kelompok-kelompok intoleran, tanpa raga-ragu menjelekkan pengikut agama lain, disebut dengan kata-kata yang orang yang mendengarnya tidak senang disebut begitu, oleh karena bukan begitu.

Dan kelihatannya juga ada kelompok yang anti Pancasila dan lain-lain.

Saya kira, kekokohan bangsa ini perlu diteguhkan lagi, karena kita yakin, bahwa pada akhirnya yang bisa mewadahi bangsa yang macam-macam bentuk suku dan agamanya ini hanya pancasila saja.

Kebhinnekatunggalikaan inilah yang ahirnya menjadi wadah yang bisa membawa kedamaian bagi, dan kerukunan bangsa ini “

Demikian diungkapkan oleh Romo Arkhimandrite Daniel Bambang Byantoro, Ph.D, yang merupakan Pendiri dan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia, dalam seminar sehari tentang Kebhinnekaan dan Stigma Kafir dalam Konteks Kebangsaan Indonesia, yang dilaksanakan di Wisma Kinasih, Minggu 16 Juli 2017 lalu.

Baca Lagi!   Riak Kristen Palestina dalam Pusaran Konflik Israel-Palestina

Dalam pandangannya, Romo Daniel Bambang Byantoro, Ph.D, juga mengatakan  bahwa “

Apabila salah satu kelompok memaksakan ideology mereka saja yang harus diterima, dan semua orang dipaksa untuk itu, bangsa ini akan pecah.

Pernyataan beliau ini, bukan tidak beralasan, dikarenakan bangsa Indonesia seperti yang sudah disebutkan diatas, bukanlah bangsa yang homogen atau hanya terdiri dari satu suku ataupun agama.

Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian dalam pernyataannya bahwa apabila Pancasila ini diganti dengan salah satu ideologi tertentu, maka Negara ini akan PECAH.

Pernyataan Jenderal Tito Karnavian ini bisa dilihat disini

Pertarungan Kebhinnekaan dengan Ideologi Sektarian

Dalam sejarah kebangsaan Indonesia, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini sudah sering menghadapi berbagai gerakan gerakan ideologi sektarian yang ingin mengganti Dasar Negara ini dan menggantinya dengan ideologinya.

Namun, Sejarah juga membuktikan bahwa, semua ideologi-ideologi sektarian tersebut berhasil tumbang.

Akan tetapi kita juga melihat, bahwa sepanjang kebangsaan kita, selalu saja ada benih-benih pemaksaan kehendak satu kelompok, pemaksaan ideologi sektarian yang bertentangan dengan pancasila.

Padahal, kita semua sama sama berada di Negara ini, makan dan minum dari bumi ini, maka seharunya kita semuanyalah sebagai bangsa Indonesia, yang harus menjaga dan melestarikan Segenap Elemen dan Pilar-pilar bangsa, demi keberlangsung bangsa hingga dari generasi ke-generasi.

Segenap elemen bangsa harusnya bahu membahu, bekerjasama dan saling peduli dalam menjaga kerukunan bangsa. Bersama-sama memerangi segenap ideologi yang ingin merusak tatanan bangsa yang tercinta ini.

Kebhinnekaan dalam Kontek Kebangsaan
Romo Daniel (tengah), Edi, Pendiri KiranaMedia.com (Kanan)

Dalam berbagai sejarah bangsa bangsa didunia, juga, pecahnya bangsa bangsa itu juga dikarenakan berbagai isu sectarian, sehingga banyak bangsa bangsa, yang tadinya merupakan bangsa yang besar, lalu hancur dan pecah.

Baca Lagi!   Mengubah Isi Pancasila, Remaja Perempuan Di Malang Terciduk

Sehubungan dengan kebhinnekaan ini, Romo Daniel Bambang Byantoro, Ph.D juga mengingatkan bahwa sejatinya kita tidak menggunakan berbagai istilah-istilah yang menyakitkan hati anak bangsa.

Dalam Bingkai Kebhinnekaan dan Kebangsaan, Istilah Pribumi dan Non Pribumi sudah tidak relevan

Istilah-istilah Pribumi atau non probumi  seharunya bukan hal yang relevan lagi untuk didengungkan. Terlebih jika diungkapkan dengan sangat tendesius, terkhusus terhadap Suku Tionghoa. Sebab jika kata Non Pribumi kita ucapkan, maka sejatinya terhadap orang-orang Arab, India dan lainnya, juga harusnya kita nyatakan juga sebagai non Pribumi.

Akan tetapi hal ini teramat sering hanya dikhususkan terhadap Suku Tionghoa.

Dan sejatinya semua elemen bangsa harunya mengedepankan keindonesiaan, dan dalam keindonesiaan, maka kita semua adalah Bangsa Indonesia,tanpa terkecuali. Sehingga dengan demikian, maka Pancasila dan Kebhinnekaan akan tetap terjaga.

Berikut video lanjut wawancara dengan Romo Daniel B.Byantro, Ph.D.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*