Main Menu

Para Tokoh Beragama, harus bekerjama sama untuk menghasilkan buah

Keakraban, Saling Menghargai dan Mengasihi, Tak Boleh Kalah Dengan Burung Merpati

BUrung Merpati

Keakraban dan Saling Menghargai, Tak Boleh Kalah Dengan Burung Merpati

Ilustrasi Gambar (1)

Oleh : Baran Batara

Kirana Media – Kehidupan beragama di Kampung Sawah adalah sebuah hasil yang tidak instan. Toleransi yang tercipta merupakan buah dari kebijaksanaan akumulatif seluruh warga dalam memandang perbedaan. Mereka menyadari akan pentingnya eksistensi umat lain seperti melihat saudara sendiri.

Tetangga, apapun latarbelakangnya adalah bagian dari kehidupan mereka sendiri. Untuk itulah dibutuhkan rasa saling menghargai dan membutuhkan seperti hukum alam manusia sebagai mahluk social, yang memerlukan orang lain untuk bisa hidup kolektif.

Tony Santoso, Humas KiranaMedia, Melanie Pewawancara, Ibu Umi dan Pak Edi Aman, Tokoh Masyarakat Kampung Sawah
Tim KiranaMedia bersama Pak Edi Aman, Tokoh Masyarakat Kampung Sawah.

Seperti misalnya kebiasaan untuk terlibat dalam menjaga ketertiban lalu lintas, menjadi petugas keamanan untuk rumah ibadah lain pada perayaan-perayaaan agama tetangganya, atau mengadakan acara-acara yang masih dalam batas toleransi hubungan manusia untuk menyambut perayaan agama umat lain. Hal itu mereka lakukan berganti-gantian dan sampai saat ini masih dilestarikan dengan baik.

Sebagaimana dipaparkan Bapak Edi Aman, tokoh humas dari RT 02 Kampung Sawah.

“Saling menghargai, itu poin utamanya,” imbuhnya.

Menurut Pak Edi Aman, kehidupan beragama di Kampung Sawah cukup heterogen. Ada yang beragama Islam, Katholik, Protestan, Buddha dan Hindu. Pak Edi Aman, mengingatkan sebuah peristiwa yang sangat berkesan yang pernah ia alami di suatu acara yang digagas Gereja Katholik Servatius.

Ia terkesan saat menjadi perwakilan umat Muslim Kampung Sawah berikrar tentang keakraban dan persaudaraan. Bersama-sama dengan tokoh umat agama lain, Pak Edi Aman diberi seekor burung merpati yang akan mereka lepaskan bersama sebagai simbol perdamaian universal.

“Dalam hitungan ketiga burung merpati itu kita lepas bareng-bareng. Nah begitu kita lepas ternyata burung-burung itu ada (berkumpul) di atap gereja semua. Artinya, kalau kita sampai selisih sebagai umat beragama, kita malu dong sama burung,” ujarnya penuh semangat.

Kehidupan beragama memang harus dibekali dengan kesadaran bersama. Keinginan untuk mengetahui batas masing-masing dan mana yang tidak, serta kesanggupan untuk menghargainya. Bentuk penghargaan itu pun tak hanya mereka ucapkan di bibir saja. Tapi senantiasa diimplementasikan dalam cara hidup bermasyarakat sehari-hari. Ada keinginan untuk mengenal hal-hal umum tentang agama lain agar tahu bagaimana bereaksi dan berpartisipasi. Sehingga tidak timbul perselisihan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman.

Dalam hal Kebersamaan dan kerjasama dalam berbagai hal, Pak Edi Aman juga mengatakan supaya para tokoh agama saling bekerjasama untuk menghasilkan buah.

Berikut video wawancaran dengan Pak Edi Aman

 ***

  1. Sumber Gambar Burung Merpati : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/merpati-selalu-tahu-jalan-pulang/

[widgets_on_pages id=”1″]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*