Main Menu

Kebakaran Museum Bahari

Semangat Maritim dan Ironi Kerugian Terbakarnya Museum Bahari

Museum Bahari

Terbakarnya Museum Maritim atau Museum Bahari Indonesia turut mendapat perhatian dalam pemberitaan internasional, namun dengan nada sumbang.

Terlebih sehari sebelumnya, selazar di gedung Bursa Efek Indonesia rubuh dan melukai puluhan orang. The Washington Post menulis dalam dua hari telah terjadi dua bencana yang menimpa bangunan penting di Indonesia.

Ini memperlihatkan betapa peraturan keamanan sering kali tidak ditegakkan secara konstisten bahkan diabaikan di Indonesia.

ABC News turut menambahkan minimnya pengawasan bangunan dengan merujuk kejadian Oktober lalu, ketika pabrik kembang api terbakar dan menewaskan 50 orang.

Investigasi polisi kala itu turut mengungkap banyaknya penyimpangan keamanan di Indonesia.

Terbakarnya museum Bahari menghadirkan ironi ganda. Koleksi maritim pupus terbakar, gedung cagar budaya hangus dilalap api. Semua hanya karena korsleting listrik.

Museum Bahari Berkali Terancam Kebakaran

Namun, sebenarnya kebakaran sudah pernah berulang di museum yang terletak di Penjaringan, Jakarta Barat tersebut.

Menurut pengakuan Kepala UPT Museum Kebaharian, Husnison Nizar Museum Bahari sudah pernah “beberapa kali” mengalami kebakaran.

“Sejak dibangun tanggal tujuh bulan tujuh 1977. Pernah ada beberapa kebakaran, tapi bisa kita padamkan,” ujar Husnison seperti dikutip dari Kompas.com.

Namun kali ini, bangunan bekas gudang rempah VOC tersebut tidak bisa terselamatkan. Husnison Nizar menyebutkan kebakaran yang terjadi di gedung C menghanguskan koleksi navigasi laut dan miniatur perahu tradisional.

Ironinya, belum genap dua bulan museum tersebut selesai direnovasi dan diresmikan kembali oleh Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.

Biaya yang dikucurkan untuk memperbaiki beberapa bangunan fisik museum tersebut mencapai hingga tujuh miliar Rupiah.

“Renovasi dilakukan tahun 2017 dan 30 November sudah selesai dipugar. Tapi itu hanya bangunan fisik seperti ganti komponen kayu, kaso yang rapuh, cat gedung dan belum termasuk instalasi listrik,” ungkap Sonni, nama sapaan yang diberikan kepada Kepala UPT Museum Bahari.

Sebenarnya upaya untuk mengganti instalasi listrik di museum yang diresmikan tahun 1977 tersebut sudah direncanakan dan biayanya sudah dimasukkan ke dalam anggaran tahun 2018.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan juga mengaku bahwa sehari sebelumnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menggelar rapat yang membahas antisipasi serta mitigasi kebakaran di seluruh museum dan cagar budaya yang ada di Jakarta. Instalasi listrik termasuk dalam pembahasan rapat tersebut.

Sejarah dan Koleksi Museum Bahari

Museum Bahari yang terletak di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, terbakar Selasa (16/1) pagi. Api mulai berkobar pukul 08.55 WIB di bangunan museum sisi utara.

Kebakaran tersebut turut menghanguskan sebagian besar koleksi berharga museum yang merupakan ragam dunia kemaritiman Indonesia.

Museum Bahari
Museum Bahari sesudah kebakaran (Foto: Bbc)

Bangunan bersejarah itu mulai dibangun secara bertahap saat kepemimpinan Gubernur Jendral Christoffel van Swoll pada tahun 1652 hingga 1774.

Pada masa VOC bangunan tersebut berguna sebagai gudang penyimpanan, penjemuran, dan pengepakan rempah-rempah.

Komoditi berharga yang dijual oleh VOC di Nusantara seperti tembaga, timah, dan tekstil juga disimpan di gedung itu.

Di masa pendudukan Jepang, bangunan ini menjadi tempat penyimpanan logistik tentaranya. Persenjataan dan bahan pangan disimpan di gedung tersebut.

Sesudah kemerdekaan Indonesia, PLN dan PTT menggunakan bangunan tersebut sebagai gudang. Setelahnya, Museum Bahari diresmikan pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta

Ali Sadikin, dengan mempertahankan bangunan yang masih sama pada masa VOC.

Museum tersebut menjadi pengoleksi terlengkap soal kebaharian dan nelayan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.

Bangunan ini menjadi tembok warisan VOC terakhir di Nusantara. Museum Bahari yang terbakar ikut menghanguskan koleksi dunia maritim Indonesia beserta sejarahnya yang berharga ©dw-com.

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini

Share Artikel ini!
  • 306
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    306
    Shares


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*