Main Menu

Indonesia di Persimpangan Jalan

Indonesia di persimpangan jalan

Oleh Hillary Edi M.C.

Indonesia, Negeri yang tanahnya subur, negeri yang Tongkat, Kayu dan Batu jadi tanaman, negeri yang banyak suku, budaya dan kepercayaan, bukanlah negeri yang dihadiahkan oleh bangsa lain, melainkan negeri yang diperjuangkan dengan darah dan keringat para Pendiri Bangsa.

Jauh sebelumnya, Negeri ini dikenal sebagai Nusantara. Disini banyak berdiri berbagai kerajaan-kerajaan yang besar dan jaya bahkan disegenani hingga ke manca negara.

Disini berdiri Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit dan berbagai kerajaan besar lainnya yang terbentang di berbagai pelosok negeri.

Namun Semua Kerajaan-kerajaan itu bukanlah Satu Entitas Kerajaan yang melingkupi seluruh wilayah seperti halnya yang kita kenal saat ini sebagai “Indonesia”, melainkan sebagai sebuah kerajaan-kerajaan yang tepisah pisah, yang tidak merasa sebagai satu bangsa, Bahasa dan Negara.

Dan Kerajaan-kerajaan itu juga pada ahirnya hancur, baik oleh Karena terjadinya saling menyerang, serangan dari pihak luar dan bahkan ditambah oleh lemahnya semangat Perjuangan di Internal Kerajaan, hingga kerajaan-kerajaan itu hancur silih berganti.

Ditengah berbagai sejarahnya yang besar dan yang telah mengharumkan Bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang memiliki latar belakang yang besar dan disegani, tetapi tetap Kerajaan-kerajaan itu bukan Satu Bangsa yang satu.

Hingga suatu saat, Negeri ini jatuh ke tangan para penjajah.

Portugis, VOC, Belanda dan Jepang adalah kelompok kekuatan yang menjajah bangsa ini dimasa lalu.

Perjuangan yang terbatas pada suatu kesukuan dan kedaerahan pun meletus disana-sini. Organisasi Organisasi pemuda yang terbatas pada suatu kedaerahan dan kesukuanpun juga terbentuk.

Jong Sumatera, Jong Java, Jong Minahasa, Jong Borneo, Jong Ambon dan beberapa Jong lainnyapun terbentuk.

Sumpah Pemuda 1928

Organisasi-organisasi kepemudaan itu adalah cikal bakal yang menyatukan segenap elemen di Nusantara ini. Yang mempersatukan Perjuangan Bangsa diatas satu Panji-Panji.

Para Organisasi Pemuda ini yang diwakili oleh Pengurusnya akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda pda 27-28 Oktober 1928, di Waltervreden (sekarang Jakarta), tepatnya di Jalan Kramat Raya, Nomor 106, Jakarta Pusat yang saat ini Menjadi MUSEUM SUMPAH PEMUDA.

Tempat itu awalnya adalah Milik Pribadi Seorang Tionghoa , yang bernama Sie Kong Liong.

Dirumah ini, pada tanggal 28 Oktober 1928 dibacakan SUMPAH PEMUDA, yang terdiri dari 3 sumpah.

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Para Panitia ketika itu misalnya Soegondo Djojopoespito dari PPPI, R.M Djoko Marsaid dari Jong Java, Amir Sjarifuddin dari Jong Batak, Mohammad Jamin dari Jong Sumateranen dan lain lain, serta juga dihadiri oleh Para Pemuda Tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie . (1)

Lagu Indonesia Raya, gubahan W.R Soepratman diperdengarkan sebelum Teks Sumpah Pemuda diperdengarkan untuk pertamakalinya, yang ahirnya lagu ini menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. (2)

Inti sumpah pemuda adalah penyatuan segenap elemen bangsa menjadi Satu yaitu Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa yang Satu, Indonesia dan Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia.

Dari sini diketahui bahwa tanggal 28 Oktober adalah Bukti Otentik Indonesia lahir, hari ini adalah hari dimana seluruh daerah, kesukuan, dan seluruh kepemudaan melebur menjadi satu dalam satu Ikrar yaitu Ikrar Sumpah Pemuda.

Sejak lahirnya Sumpah Pemuda, maka perjuangan tidak lagi terbatas kepada satu kesukuan ataupun kedaerahan hingga mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945

Dari Sejak Sumpah Pemuda, Perjuangan Bangsa yang baru lahir itu secara perlahan akhirnya membuahkan Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan,

Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara

Menjelang Kemerdekaan Indonesia, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI mengadakan rapat pada tanggak 29 Mei-1 Juni 1945 guna merumuskan Dasar Negara Indonesia.

Dan Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno, menyampaikan gagasannya sehubungan dengan Dasar Negara, yang dinamakannya Pancasila

Rumusan Pancasila Karya Bung Karno ini pada ahirnya diterima dan berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam mukadimah Undang-Undang 1945 dan dinyatakan syah pada tanggal 18 Agustus 1945. Tanggal 1 Juni 1945, yaitu tanggal pertama kalinya Bung Karno berbicara sehubungan dengan Dasar Negara  yang dinamakannya Pancasila, ahirnya disepakati sebagai Hari Lahir Pancasila (3)

Resminya Pancasila sebagai dasar negara oleh para Pendiri bangsa telah semakin menyatukan segenap elemen bangsa. Jika pada Sumpah Pemuda kita disatukan pada Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Yaitu Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia dan Bahasa Indosia, maka Pancasila telah mewujudkan dasar yang teguh terhadap bangsa yang satu itu dalam setiap nafas kehidupannya.

Sang Perusak Tatanan Bangsa

Adalah hal yang sudah menjadi alur cerita sebuah bangsa, bahwa suatu bangsa yang berdiri dan berdaulat selalu dan akan sering diganggu oleh “Singa-Singa Lapar dan Beringas”. Dan jika kita lengah, maka akan dengan mudah kita (bangsa) diterkam dan dicabik cabiknya.

Mereka adalah Pemberontak-pemberontak baik yang ingin mengganti Pemerintahan yang sah secara kasar, ingin mengganti dasar negara dan bahkan ingin merusak tatanan bangsa dari dalam dan luar.

Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa, sejak era kemerdekaan, bangsa kita telah menghadapi berbagai jenis pemberontakan, dari yang beraliran suatu Ideologi seperti Komunis hingga yang pemberontakan yang mengatasnamakan salah satu agama yang ingin mengganti Negara Pancasila ini menjadi satu negara atas dasar satu agama dengan kekalifahannya.

Namun bangsa kita masih tetap bisa Berjaya, selamat dari semua terkaman dan cabikan itu, hingga kita masih melihat bangsa ini hingga sekarang.

Namun ahir ahir ini, gejala-gejala penyakit yang sama hadir kembali di negeri ini.

Dan jika kita biarkan, maka penyakit itu akan menggerogoti kita tanpa ampun.

Pancasila saat ini telah diganggu. Dasar Negara ingin dihilangkan. Pemerintahan kita yang syah dan seluruh elemennya disebut Thogut, bendera kita Sang Saka Merah Putih dilarang dihormati. Kebhinnekaan kita ingin mereka rusak. Salah Satu Bahasa kita dihina, dan bahkan tak segan-segan menghina Pendiri Bangsa kita.

Bangsa kita saat ini Berdiri dipersimpangan Jalan.

Dimana disetiap sisi berdiri kelompok kelompok yang anti pemerintah, anti dasar negara dan kelompok yang membela dasar negara.

Bangsa Kita berdiri dipersimpangan jalan, dimana disetiap sisi ada jalan meuju jurang dan maut serta jalan yang menuju keselamatan bangsa.

Bangsa kita berdiri dipersimpangan jalan, dimana disetiap sisi ada yang ingin mengganti system kita menyerupai system system yang menyebut diri sebagai Kekalifahan Suatu agama, Bahkan diantara mereka telah Berbaiat kepada ISIS.(4).

Apakah bangsa kita bisa bertahan mempertahankan jati diri bangsa yang luhur? Jati diri Bangsa Nusantara yang terkenal ramah dan berbudaya menjadi bangsa yang menganut suatu system yang barbar? Bngsa yang berbhinnerka Tunggal Ika menjadi Bangsa yang menghancurkan keberagaman? Bangsa yang menghacurkan budaya yang tinggi? Bangsa yang menghacurkan tatakrama dan sopan santun yang luhur menjadi suatu bangsa yang beringas, jauh dari kebiasaan luhur suatu bangsa yang beradab dan maju?

Apakah Indonesia tetap jaya atau berubah menjadi Indonistan? Apakah Pancasila masih tetap Jaya? Apakah Garuda masih tetap dihati?

Atau semuanya akan berlalu bagaikan angin??

Semua ini tergantung padamu, padaku dan pada kita semua.

Jika kita tidak perduli dengan semua ini, maka bukan tidak mungkin suatu saat tanpa diduga, bangsa kita akan berubah menjadi bangsa yang berdarah darah Seperti Suriah dan Irak.

Jika kita tidak membiasakan diri memberitahu para penerus kita untuk menghormati Bendera setiap ketemu dengan bendera merah putih dimana saja, jika tidak mebiasakan dan meneruskan lagu-lagu kebangsaan, memelihara semangat kebhinnekaan, bahkan tidak menanamkan dalam diri dan para penerus suatu kecintaan sejak dini Terhadap Dasar Negara Pancasila, Burung Garuda, Undang Undang Dasar dan semangat kesatuan dan persatuan bangsa yang bertanah air yang satu, Indonesia, Berbangsa yang satu, Indonesia dan Berbahasa yang satu, Indonesia, maka bukan tidak mungkin Indonesia hanya tinggal sejarah.

DAN AKU TIDAK MAU ITU. AKU SUDAH BAHAGIA DENGAN PANCASILA, AKU SUDAH BAHAGIA DENGAN NAMAKU , INDONESIA.

Dalam masa-masa sekarang ini dan seterusnya, Semangat SUMPAH PEMUDA adalah hal yang sangat perlu kita renungkan kembali, demi kelestarian bangsa.

Sehingga kita tidak lagi berada dipersimpangan jalan, tetapi tetap berada Di Jalan Yang Lurus dan Kokoh.

Indonesia Yang Berbhinneka Tunggal Ika, Indonesia yang Berpancasila, Indonesia yang Berburung Garuda, Indonesia yang Berundang Undang Dasar 1945. Inilah Jalan Yang Lurus bagi Bangsaku yang beragam ini dari Sabang sampai Merauke.

Jalan Selain itu adalah Jalan Yang Bengkok Bagi Bangsaku. Jalan yang tidak Sinkron dengan Bangsaku.

Berikut ini video sekilas  Sumpah Pemuda .

Daftar Sumber :

  1. http://sumpahpemuda.org/
  2. https://www.youtube.com/watch?v=aIjYfaRb4xI
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Lahirnya_Pancasila
  4. https://m.tempo.co/read/news/2014/08/06/078597739/banser-akan-bubarkan-paksa-baiat-isis-di-sidoarjo
Share Artikel ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*