Main Menu

Hari Ini Dalam Sejarah

Razia Rambut Gondrong, Embrio Protes Menuju Peristiwa Malari

Malari

Kerusuhan melanda Jakarta saat para mahasiswa menggelar apel unjuk rasa di kampus Trisakti, Jakarta Barat, pada 15 Januari 1974, peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Malari.

Malari merupakan singkatan dari Malapetaka Lima Belas Januari. Inilah rusuh pertama di era Soeharto yang baru beberapa tahun memimpin Republik.

Namun hari ini dalam sejarah Indonesia, terdapat dua peristiwa yang melekat dengan aksi mahasiswa di era orde baru yakni selain Malari juga terdapat sebuah peristiwa unik tentang penetapan kebijakan Larangan Berambut Gondrong di kalangan mahasiswa Indonesia oleh pemerintah.

Rambut Gondrong Dan Awal Gerakan Protes Menuju Malari

Meski tak berhubungan langsung namun dua peristiwa ini memiliki korelasi terkait gerakan-gerakan yang memuncak pada kerusuhan Malari 1974.

Pada awal 1970-an, demam hippies melanda dunia. Personel The Beatles, John Lennon, dan istrinya, Yoko Ono, jadi salah satu pentolan fenomena ini.

Gaya mereka serta-merta mewabah hingga ke Indonesia dan menjadi tren anak muda serta para seniman. “Gaya ini dikritik pemerintah sebagai kebarat-baratan,” ujar Remy mengenang.

Pemerintah Orde Baru bahkan melarang warga berambut gondrong. Pada 1971, TVRI mencekal para seniman berambut gondrong.

Mereka dilarang tampil di stasiun televisi milik pemerintah itu. Beberapa seniman yang tercekal saat itu di antaranya ada Remy Silado, Sophan Sophiaan, Broery Marantika, Trio Bimbo, W.S. Rendra, Umar Kayam, juga Ireng Maulana dan Taufiq Ismail.

Larangan rambut gondrong kian menjadi ketika Presiden Soeharto mengirimkan radiogram agar anggota ABRI serta karyawan sipil yang bekerja di lingkungan militer dan keluarganya tak berambut gondrong.

Di Yogyakarta, mayoritas sekolah tak mengizinkan siswa gondrong ikut ujian. Di Wonosobo, penonton berambut gondrong tak boleh menonton film di bioskop meski telah membeli karcis.

Baca Lagi!   G30S PKI, Kreasi Amerika Serikat Ciptakan Indonesia Yang Bebas Soekarno

Senada dengan yang terjadi di Pulau Jawa, di Sumatra Utara bahkan pernah dibentuk suatu badan bernama Badan Pemberantasan Rambut Gondrong.

Gubernur Sumut saat itu, Marah Halim membentuk badan tersebut sebagai bagian kampanye gerakan antirambut gondrong, sebagai salah satu gerakan kampanye pemerintah rezim orba.

Puncaknya pada 15 Januari 1972, pangkopkamtib saat itu Jenderal Soemitro memberlakukan larangan rambut gondrong secara tertulis menindaklanjuti instruksi presiden Soeharto sehingga razia antirambut gondrong digalakkan  termasuk di kampus dengan ultimatum dari rektor kepada mahasiswa untuk memilih gondrong atau mengundurkan diri.

Saat itu muncul pula berita penangkapan anggota geng motor berambut gondrong. Selain razia antirambut gondrong larangan ini juga meliputi razia celana jeans yang ketat.

Embrio Malari Mulai Membesar

Mahasiswa saat itu menolak razia yang demikian dengan membalas razia orang gendut untuk menyindir pangkopkamtib Soemitro saat itu yang bertubuh tambun.

Menurut Hariman Siregar, aktivis mahasiswa Universitas Indonesia, balasan razia itu dilakukan untuk menyindir Jenderal Soemitro, yang bertubuh tambun. “Reaksi mahasiswa Bandung paling keras,” ujar Hariman.

Protes-protes terhadap pemerintah itu kemudian bergulir hingga puncaknya, 15 Januari 1974. Banyak berjatuhan korban jiwa dan harta benda.

Menurut salah seorang aktivis Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yang mengikuti apel kala itu, Gurmilang Kartasasmita, bakar-bakaran terjadi saat mahasiswa belum selesai demonstrasi.

Mahasiswa baru tahu kalau ada bakar-bakaran sepulangnya mereka dari kampus Trisakti.

“Di Jalan Juanda, bangkai-bangkai mobil terguling. Di kawasan Senen massa menyemut, kami mahasiswa bingung dengan apa yang terjadi,” katanya saat ditemui akhir tahun lalu.

Awalnya adalah unjuk rasa mahasiswa, yang dilakukan pada saat kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta.

Mereka memprotes semakin besarnya aliran modal asing. Jepang dianggap memeras ekonomi Indonesia dan membunuh pengusaha lokal.

Baca Lagi!   Mengenang Kisah Tionghoa Punggawa Piala Thomas Di Reformasi 1998

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974).

Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara.

Ternyata semua berjalan tidak sesuai dengan rencana. Demonstrasi belum usaiketika sekelompok orang mulai memba- kar dan menjarah toko-toko.

Mereka merusak pabrik Coca-Cola dan showroom mobil Toyota. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Malari—akronim Malapetaka 15 Januari.

Tragedi Malari
Para Selebritis penganut gaya hidup Hippies di era 70-an dunia cenderung memiliki pandangan politik antipemerintah (Foto:Mjnews)

Sebagaimana disebut di atas demonstrasi mahasiswa pada pemerintah sebenarnya telah dilakukan sepanjang 1970–1974. Arief Budiman pada Agustus 1970 mendirikan Komite Anti Korupsi.

Ada juga gerakan menolak mencoblos pada Pemilihan Umum 1971. Ketika Tien Soeharto membangun proyek mercusuar Taman Mini Indonesia Indah, mahasiswa juga turun ke jalan.

Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Pada Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara.

Korban Peristiwa Malari

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap.

Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin, Sutopo Juwono digantikan oleh Yoga Soegomo.

Sementara itu Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut.

Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ.

Baca Lagi!   Sejarah Hari Ibu Dan Peringatan Yang Berbeda-Beda Di Dunia

Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.

Akibat beringasnya massa dalam peristiwa Malari, 807 mobil dan 187 motor terbakar, 160 kg emas raib digarong.

Selain itu terdapat 144 gedung yang porak-poranda, termasuk gedung Astra Toyota Motors, Coca-Cola, Pertamina, dan puluhan toko di proyek Senen.

Dalam kerusuhan Malari, 11 nyawa melayang, 75 orang terluka berat, sementara ratusan luka ringan. Buntut peristiwa Malari ini sebanyak 775 orang jadi pesakitan, termasuk para aktivis politik dan mahasiswa ©Tempo.

[widgets_on_pages id=”1″]

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*