Main Menu

Doa yang Bernoda oleh setitik Noda dari Orang Yang Ternoda

Doa yang bernoda

Doa dalam bahasa sederhanya sejatinya adalah suatu harapan, permohonan yang kita dan keinginan yang kita ucapkan. Bisa saja doa yang diucapkan oleh tiap orang berbeda-beda. Tetapi bagaimana isi doa yang diucapkan oleh seseorang juga menunjukkan bagaimana orang tersebut.

Seumpama pakaian yang putih bersih, pakaian tersebut akan penuh bercak bercak noda apabila masuk suatu zat atau bercak bercak yang dapat mengotorinya, sehingga pakaian tersebut ternoda.

Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang berbelas kasih, mengharapkan yang terbaik terjadi pada sesamanya, jujur dan berbagai karakter positip lainnya. Karena itu apabila manusia menunjukkan ciri ciri yang bukan kodratnya maka sebenarnya manusia itu telah Ternoda.

Manusia yang selalu memelihara dan hidup dalam kebencian bahkan tanpa henti terhadap yang lain, penuh kepalsuan, kebohongan dan berbagai trik tipu muslihat lainnya adalah manusia manusia yang ternoda dan tentu bernoa. Mereka perlu dibersihkan akal, hati, batin dan fikirannya.

Mahluq manusia ternoda ini bisa segera dilacak keberadaannya. Dengarlah apa dan bagaimana kata-katanya, perhatikanlah apa saja yang diucapkannya, dituliskannya, difikirkannya bahkan didoakannya terkhusus terhadap orang yang dianggapnya menjadi musuh bebuyutannya, baik oleh karena harapannya tidak dikabulkan oleh orang yang dianggap musuh tersebut, ataupun juga oleh karena beda haluan, faham, alur politik dan lain sebagainya.

Jika kita melihat hal ini, maka dapat dipastikan, bahwa teramat sangat banyak mahluq mahluq yang merupakan manusia ternoda disekitar kita. Dari yang berada dikalangan bawah bahkan kalangan atas.

Di era pemerintahan Presiden Jokowi, setidaknya kita melihat dua Mahluq yang menyampakan doa yang “Bernoda” oleh “Setitik noda”. Kita masih ingat bagaimana “doa” yang disampaikan oleh politisi Gerindra disidang tahunan pada 16 Agustus 2016 lalu, melalui doa yang dipanjatkan oleh Syafii, yang jika dinilai bukan lagi merupakan doa, tetapi tidak lebih daripada sekedar kampanye Hitam terhadap Lawan Politiknya , Sang Presiden sendiri.

Baca Lagi!   Film Wiro Sableng Rasa Hollywood Akan Tayang Tahun Depan

Berikut “doa” syafii pada 16 Agustus 2016 tahun lalu :

Doa yang bernoda
Doa yang bernoda

“Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat, yang memberi janji janji palsu, yang memberi harapan kosong. Jauhkan kami ya Allah dari pemimpin yang khianat, yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, dan seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat,”

“Di mana-mana rakyat digusur tanpa tahu ke mana mereka harus pergi, di mana-mana rakyat kehilangan pekerjaan ya Allah. Di Negeri yang kaya ini, rakyat ini outsourcing wahai Allah, tidak ada jaminan kehidupan mereka aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat,”

Hal yang sama, pada 16 Agustus 2017 ini, terulang kembali. Kali ini oleh Politisi dari kubu yang sama, koalisi yang sama, dari PKS, tepatnya oleh Tifatul Sembiring.

Berikut sebagian isi  “doa” Tifatul sembiring :

“Berilah petunjuk kepada Presiden Bapak Joko Widodo. Gemukkanlah badan beliau karena kini terlihat makin kurus,”

Keduanya dan para pendukung kubu mereka seperti biasa akan manggut-manggut dan mencari alasan pembenaran apabila dikritik baik oleh yang satu imannya, denominasinya ataupun oleh kelompok lain.

Hal itu tentu tidak mengherankan, karena selama noda itu masih menutupi, maka kewarasan belum dan tidak akan muncul, hingga noda yang membuat mereka ternoda dibersihkan.

Sebagaimana pakaian putih yang ternoda itu, semua noda itu harus dibersihkan dulu untuk mendapatkan pakaian itu kembali putih seperti biasa.

Jika pakaian lebih mudah dicari pembersihnya, karena banyak dijual ditoko-toko, tidak demikan terhadap manusia. Untuk membersihkan manusia ternoda ini tentu sulit. Bahkan bisa jadi sampai kiamat noda itu tetap menyertai mereka.

Terlebih belum ada alat deteksi yang pasti untuk mendeteksi dimana pusat noda itu berada. Apakah difikiran mereka, mental mereka, cara hidup mereka, hati dan batin mereka, atau luka batin yang mereka alami akibat berbagai kekalahan pertandingan atau bahkan semuanya.

Baca Lagi!   Reformasi : Bioskop Di Saudi Kembali Dibuka Setelah 35 Tahun

Juga jangan terlalu berharap agar mahluq mahluq ternoda itu bisa putih bersih kembali, sebab pakaian putih yang pembersih nodanya bisa mudah diperoleh saja, masih ada pakaian yang sudah tidak bisa dibersihkan, apalagi yang belum ada alat pasti pembersih mereka.

Satu-satunya yang harus difikirkan oleh yang masih waras adalah, semoga Presiden Jokowi senantiasa sehat dalam segala hal dalam memimpin negeri ini.

Dan tentu “doa” tifatul tidak akan dikabulkan oleh Allah, karena kalau Gemuk nanti rentan penyakit.

Bisa saja, si Tifatul iri lihat Presiden sekarang, dimana Badannya Tidak Gemuk, Tapi Sangat lincah dalam berbuat yang terbaik bagi bangsa ini, sehingga Tifatul berharap Sang Presiden Gemuk minimal seperti dirinya, sehingga Sang Presiden tidak Lincah seperti sekarang, sehingga Tifatul punya tambahan teman diatara teman-temannya yang sekarang, kumpulan dari orang-orang yang tidak lincah, karena Gemuk, atau bahkan Gemuknya Kebangetan.

Wuiihhh…kalau begini, sudah pasti tidak akan dikabulkan.

 

[widgets_on_pages id=”1″]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*