Main Menu

Fenomena Bule Kere

Bebas Visa, Kunjungan Wisman Naik, Tapi Sayang Marak Bule Kere

Bule Kere

Kejadian dua orang WNA asal Selandia Baru yang kehabisan ongkos saat liburan di Jakarta ramai jadi perbincangan publik dengan istilah bule kere di media sosial.

Masalah finansial WNA saat berlibur di Indonesia ini dikaitkan dengan kebijakan bebas visa.

Peristiwa WNA Selandia Baru kehabisan ongkos di Jakarta terjadi pada Sabtu (24/2/2018). Seperti diinformasikan melalui akun instagram TMC Polda Metro Jaya, dua bule itu ditemukan di tepi jalan.

Kemudian polisi membantu WNA tersebut untuk sampai tujuannya ke Cirebon dengan menaiki sebuah truk.

Bule Kere dan Bebas Visa

Sebelum peristiwa di Jakarta, ada juga bule yang kehabisan ongkos di Pekalongan pada September 2017 lalu.

Dua turis bule asal Republik Ceko dan Slowakia mengaku kehabisan ongkos dan tak bisa membayar hotel di Pekalongan.

Turis bernama Nedomelel Petr (36), laki-laki asal Ceko dan Bratska Jara (29) perempuan asal Slowakia merupakan turis yang tengah mengisi liburan ke Indonesia. Untuk bekal perjalanan kedua turis ini, polisi Pekalongan rela patungan.

Kedua turis tersebut sebelumnya sudah mengunjungi sejumlah tempat wisata di Jawa Timur. Kemudian dengan menumpang bus, mereka menempuh perjalanan dari Jawa Timur ke Jakarta.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo, ada 169 negara yang dibebaskan visa untuk warganya berkunjung ke Indonesia.

Lewat peraturan tersebut, Penerima Bebas Visa Kunjungan diberikan izin tinggal kunjungan untuk 30 hari dan tidak dapat diperpanjang masa berlakunya ataupun dialihstatuskan menjadi izin tinggal lainnya.

Lalu, apakah fenomena bule kehabisan ongkos di Indonesia adalah akibat kebijakan bebas visa? Kemenkum HAM menepisnya.

“Antara policy memberikan visa bebas dengan dampak yang ditimbulkan dari datangnya orang asing itu dua hal terpisah,” kata Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno saat dihubungi lewat sambungan telepon, Senin (26/2/2018).

“Kalau bicara data dan fakta, tak ada korelasinya,” tambahnya.

Agung mengatakan Kemenkum HAM terkendala pengawasan soal maraknya bule yang kehabisan ongkos ini. Apalagi, ada banyak pintu masuk ke Indonesia.

“Jadi persoalannya bukan kebijakan bebas visanya. Tapi kita yang membutuhkan pengawasan dari berbagai pihak,” ujar Agung.

Kumham Sebut Fenomena Bule Kere Tak Hanya Indonesia

Agung Sampurno mengatakan banyaknya warga negara asing yang kehabisan ongkos lalu menggelandang sebagai fenomena global. Fenomena ini menurutnya bagian dari pergerakan manusia secara internasional.

Bule Kere
Fenomena Bule Kere ini memicu komentar netizen. Ada yang menyoroti soal kebijakan bebas visa, ada yang juga mempertanyakan peran Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM (Foto: Twitter)

Dia mengatakan ada beragam motif yang melandasi terjadinya pergerakan manusia dalam lingkup global. Agung mengatakan peristiwa keimigrasian tak hanya soal WNA yang menggelandang.

Agung mengatakan pemerintah menggandeng masyarakat untuk mengantisipasi ekses peristiwa migrasi tersebut. Persoalan peristiwa imigrasi tak hanya sebatas bermotif ekonomi.

“Peran pemerintah perannya melakukan pengawasan. Pemerintah dibantu masyarakat. Contoh kasus, TKI kita yang meninggal kemarin, yang kita pulangkan kemarin. Itu kan juga dibantu masyarakat,” ucap dia.

Sementara, terkait kasus dua orang WNA asal Selandia Baru yang kehabisan ongkos saat hendak menuju Cirebon, Agung menyebut hal itu sebagai tren dari wisatawan yang berjiwa adventure. Wisatawan model bule kere ini kadang hanya membawa uang pas saat berlibur ©Detiknews.

[widgets_on_pages id=”1″]

Baca Artikel Lain Penulis Dengan Klik Nama Profil Penulis Di Bawah Ini



One Comment to Bebas Visa, Kunjungan Wisman Naik, Tapi Sayang Marak Bule Kere

  1. Just want to say your article is as astounding. The clarity in your post is just spectacular and i can assume you’re an expert on this subject. Fine with your permission let me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please continue the rewarding work.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*