Main Menu

Klarifikasi Manipulasi Informasi DI Milad FPI

Analisa dan Klarifikasi Terhadap Manipulasi Kehadiran Tokoh Yang Dikesankan Sebagai Perwakilan Resmi Agama di Milad FPI

Klarifikasi Informasi Di Milad FPI

Acara Milad FPI yang berlangsung dengan tema ‘Merawat Kebhinekaan dalam Bingkai NKRI Bersyariah’ di Stadion Muara Kamal, Jakarta Utara, 19 Agustus 2017 lalu sepertinya dimanfaatkan ke arah yang salah.

Setidaknya demikian yang tertangkap dilihat dari cara media pendukung ormas ini dalam mengemas pemberitaan tentang acara itu. Pun demikian dengan reaksi yang sangat disayangkan dari beberapa kalangan masyarakat yang menanggapinya dengan emosional.

Reaksi yang muncul tersebut tak dimungkiri sesungguhnya berkaitan dengan tema perayaan yang sangat kontroversial itu. Sebab pada dasarnya tema yang diangkat oleh ormas ini juga sudah tidak sesuai dengan cita-cita NKRI yang tidak didasarkan pada satu syariah agama tertentu.

Apabila tema yang diangkat adalah “Merawat Kebhinnekaan dalam Bingkai NKRI bersyariah, maka hal itu sudah bertentangan dengan NKRI itu sendiri yaitu NKRI yang berjiwa Pancasila, bukan berjiwa syariah suatu agama .

Hal itu kemudian diikuti pula dengan beberapa pemberitaan yang terkesan manipulatif, baik terhadap data atau atau klaim. Seperti misal sengaja memaksakan seolah tokoh pengurus dari organisasi keagamaan, sebagai menjadi wakil dari Organisas Resmi dari Agama yang dianutnya.

Sebagaimana kita lihat dalam berita berjudul “Membungkam Haters! Uskup Agung Jakarta dan Tokoh Lintas Agama Hadir di Milad ke-19 FPI”. Selain seakan menantang, sesungguhnya ada pelencengan (manipulasi) fakta, mengenai kehadiran dan komentar tokoh yang berlatarbelakang agama lain terhadap FPI.

Demikian juga dengan yang ada di video-video yang dikemasi di saluran youtube, pihak yang ditengarai sama, yang menginginkan legitimasi lewat penafsiran yang keliru terhadap niat baik para tokoh yang pro kebhinekaan, juga tersebar dengan pola gunting-tempel potongan berita lama dan baru untuk mengelabui pemirsa.

Penggiringan Opini yang menyesatkan

Penggiringan opini yang dikhawatirkan tersimpulkan salah oleh yang membaca benar menjadi kenyataan. Ada dua kesalahpahaman yang sudah menyebar di kalangan netizen, yang mana itu perlu diluruskan.

Yang pertama, bahwa seolah FPI selama ini difitnah,padahal sesungguhnya citra intoleran mereka adalah buah dari perilaku mereka. Misinformasi yang kedua ialah bahwa kehadiran dan opini tokoh-tokoh tersebut benar mewakili agamanya.

Kekhawatiran yang benar terjadi. Paradoks dari tema Milad mereka, media pendukung FPI berhasil memecah-belah kelompok masyarakat. Silang pendapat sudah terjadi seiring menyebarnya berita ini di kalangan penganut agama kristen.

Di kalangan netizen kristen sendiri, tak sedikit yang terpancing dan mencari kesimpulan mentah. Mereka tergiring opini oleh pemberitaan FPI tersebut. Beberapa umat kristen misalnya begitu cepat menghakimi tanpa coba berpikir jernih dan melihat inti dari masalah.

Dalam akun facebook pribadinya, seorang netizen bernama Petrus Munthe begitu gencar menyebarkan penghakiman pada tokoh-tokoh yang dimaksud FPI tersebut. Secara tidak langsung ia sepertinya sudah terjaring pancing yang diinginkan manipulator yaitu media berita di atas.

Baca Lagi!   Gus Mus Nan Rendah Hati, Kiai Pertama Peraih Yap Thiam Hien Award

Petrus Munthe memvonis para tokoh organisasi kemasyarakatan yang hadir memenuhi undangan tersebut sebagai Judas Iskariot, yang dalam literatur kekristenan sering diasosiasikan dengan tokoh Penghianat Kristus.

Padahal kehadiran tokoh-tokoh tersebut sesungguhnya tidak benar atas nama agama ataupun mengatasnamakan organisasi induk agama kristen apapun, meskipun memang mereka berprofesi sebagai imam atau pendeta di kalangan agamanya.

Tak ketinggalan para komentator juga ikut menyiram api di status-status Petrus yang provokatif dan emosional tersebut. Di antaranya seperti netizen  Ignatius Barady, Fx Bagyo, Arman Ariendra yang ikut mengomentari dengan cibiran dan bullyian. Meski beberapa netizen lain sudah coba membantu mengklarifikasi namun orang-orang emosional tersebut sudah sulit diajak bijaksana.

Klarifikasi Manipulasi Informasi Di Milad FPI
Klarifikasi Romo Alexios dari Gereja Ortodoks Indonesia (GOI) tentang kehadirannya yang tidak mewakili GOI melainkan Bamag,

Fakta yang sebenarnya, tokoh agama kristen yang hadir di sana adalah tokoh yang hadir sebagai bagian dari organisasi yang berkaitan dengan agama.

Dengan semangat merangkul, di bawah nama organisasi kemasyarakatan dan bukan organisasi agama, kehadiran mereka disalahartikan.

Beberapa tokoh yang diklaim redaksional media dan penyebar informasi palsu FPI sebagai perwakilan PGI, GOI, KWI sebenarnya tidak hadir disana sebagai perwakilan institusi-institusi resmi tersebut.

Ada banyak alasan kehadiran mereka yang tentu masih menunggu klarifikasi resmi yang bersangkutan. Sehingga memvonis mereka secara langsung sungguhlah tidak bijak karena bisa saja mereka pun berada dalam suasana dilematis.

Atau kemungkinan lain, ingin mencoba mewujudkan yang namanya penjemputan bola, mencoba mengimplementasikan wujud pelayanan bernafaskan pendekatan kasih. Sebagaimana kita ketahui kekerasan dilawan kekerasan hanya menyisakan kehancuran bersama.

Dihubungi secara pribadi oleh Kirana Media, salah satu tokoh yang difitnah tersebut yakni Romo Alexios. Melalui pesan Whatsapp beliau mengatakan ia hadir mewakili ormas keagamaan Bamag LKKI, atau Badan Musyawarah Antar Gereja, jadi bukan atas nama Gereja Ortodoks Indonesia sebagaimana diisukan.

 

Paradoks Tema Bhinneka yang bersyariat

Memang tak ada yang namanya sesuatu kesalahan yang abadi. Setiap orang atau organisasi bisa berubah, yang awalnya intoleran menjadi toleran, yang dulunya jahat bisa menjadi baik. Namun tentu perubahan itu harus ditunjukkan dengan perilaku yang sejalan.

Jadi, pola-pola manipulasi opini dengan memanfaatkan potongan kebenaran untuk mencapai kesimpulan seperti terlihat di dalam berita yang menjadi awal polemik di internal kekristenan di atas, sangat kontraproduktif baik bagi FPI dan  berbahaya bagi yang menerima informasi, khususnya mereka yang keimanannya masih awam dan lugu, yang mudah tesulut emosi.

Baca Lagi!   Kain Batik Indonesia, Warisan Dunia dan Sandang Pererat Nusantara

Melalui berita tersebut, pihak FPI seolah menyatakan bahwa informasi yang menentang cara mereka berlaku sebelumnya adalah palsu dan fitnah. Selain itu berita itu pula potensial menjadi pemecah belah. Khususnya di kalangan identitas agama yang diklaim mendukung FPI karena menghadiri undangan tersebut, apalagi dengan tema seperti itu, layaknya sedikit kalangan umat kristen di atas.

Kita ketahui bersama sebelumnya bahwa ormas FPI kerap berbuat sesuatu yang melukai semangat kebhinekaan, semangat persatuan dan semangat nasionalisme pada negara. Citra itu sudah cukup lama melekat, dan cenderung ditanggapi arogan sebagai lambang perjuangan Islam secara keseluruhan oleh ormas ini dan pendukung sempitnya.

Padahal kenyataannya, tidak seluruh umat Islam Indonesia mengakui dan menyetujui tindakan mereka. Sebaliknya pun non-muslim tak semua berseberangan dengan tindakan FPI. Banyak yang memiliki kepentingan sama dengan FPI terkhusus dikaitkan dengan kepentingan politik. Jadi bahwa FPI musuh nonmuslim itu memang tidak benar. Banyak tokoh berlatarbelakang nonmuslim yang memang dekat dengan FPI, seperti Lius atau Jaya Suprana.

Namun jika ingin merubah citra saja, tanpa perbuatan yang benar-benar ingin merawat kebhinekaan, itu akan sangat disayangkan. Sehingga tema yang dibawakan oleh FPI sangat arogan, saat mengatakan ingin merawat kebhinekaan dalam bingkai NKRI Bersyariah. Sebab Syariah Islam, begitu juga dengan syariat agama-agama lain, ada di dalam domain internal keagamaan, bukan domain negara.

Sebaliknya kebhinekaan justru membawa maksud tiada yang teristimewakan melainkan dianggap sama kedudukannya. Bukan untuk dibaurkan tapi dihormati untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan ukuran kehidupan bermasyarakat dan bersosial di bawah hukum dan undang-undang negara, dalam hal ini adalah UUD 45 dan Pancasila.

Tidak ada satu agama, suku, ras atau golongan yang kedudukannya lebih tinggi dibanding agama, suku, ras dan golongan lain di NKRI ini. Menempatkan diri sebagai yang lebih tinggi dibanding yang lain adalah salah satu ciri dari philetisme yang dalam sejarah dunia berungkali terjadi dan sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup antar sesama.

Pembaca yang tidak bijak

Klarifikasi Manipulasi Informasi di Milad FPI
Contoh Screenshoot Penghakiman Sepihak Netizen

Khusus untuk kalangan kristen, cara penyampaian berita yang seolah menganggap tokoh-tokoh dari latar belakang agama lain berada di pihak FPI di atas memang tak bisa kita kendalikan, karena mereka punya tujuan tertentu dari itu.

Namun kebijaksanaan seyogyianya ada di tangan pembaca, terlebih mereka yang selama ini giat melakukan pencerahan atau kesadaran bermedia informasi. Sikap- sikap emosional, mudah terbakar justru menunjukkan perilaku yang tak berbeda dengan yang selama ini dicibir.

Apalagi jika pembaca tersebut kerap menyebarkan hal hal yang bersifat agamis, yang seharusnya bisa lebih waskita dan bukan menambah permasalahan. Seperti yang kita lihat di facebook pribadi Netizen Petrus Munthe yang sangat sering menyebarkan hal yang bersifat keagamaan, tetapi sangat disayangkan ketika menanggapi berita sangat tidak bijak.

Baca Lagi!   Reuni Alumni 212, Dari Kibaran Bendera HTI Hingga NKRI Bersyariah

Seperti disebutkan di atas kehadiran tokoh-tokoh di atas bisa saja sebagai bentuk penghormatan akan niat yang baik, pemenuhan sebuah undangan memenuhi silaturahmi atau sebuah antusiasme harapan agar FPI bisa kedepan berubah menjadi organisasi yang toleran. Begitupula dengan tanggapan-tanggapan diplomatif dari tokoh nonmuslim yang menghadiri acara itu, yang bernada mendamaikan, bisa saja bagian dari pendekatan untuk mendukung FPI menjadi toleran.

Memang sangat disayangkan, kehadiran mereka disalahartikan dan disalahgunakan. Seolah kalah dua kali, sudah difitnah sebagai pendukung FPI, juga di kalangan internalnya dicibir sebagai penghianat.

Utamanya kepada FPI, Bahwa FPI ingin berubah, terutama setelah kasus yang menimpa pimpinannya akhir-akhir ini, ke arah yang lebih berorientasi nilai-nilai Pancasila adalah disambut baik. Tapi cara yang mereka tempuh dalam menunjukkan itu, yang justru bertolakbelakang itu, sebaiknya dihindari.

Seperti dalam kalimat “Kehadiran para tokoh lintas agama ini secara telak membungkam para haters FPI yang selama ini melempar tudingan dengan isu radikal, intoleran, anti bhinneka, bla bla bla.”

Demikian pula sebagai pelajaran bagi pihak atau tokoh lain di masa yang akan datang. Agar lebih waspada dan menghindari kegiatan dan interview-interview yang potensial untuk disalahgunakan oleh mereka yang memang berniat buruk memanfaatkan keluguan atau kebaikan yang ditunjukkan.

Jadi seperti sebuah analogi , seorang Bijaksanawan berjalan ke pusat keramaian yang menyediakan banyak sarana hiburan dewasa. Orang-orang akan mudah menuduh bahwa si orang tersebut pergi untuk bermain perempuan.

Saat terlihat dari kejauhan ternyata dia berkumpul dengan lelaki-lelaki muda, vonis negatif tak kunjung berhenti yaitu dianggap sebagai punya kelainan. Sementara tentang kebenarannya tak seorangpun yang tahu sebelum menanyakan langsung pada yang bersangkutan untuk mengetahui lebih mendalam

Begitupula ketika seorang pemimpin mencoba mendekat, memenuhi perundingan duduk semeja dengan pihak musuh, lalu dicap penghianat. Sementara saat berdiam di kalangan sendiri tetap dicap sebagai negaif dengan ungkapan berdiam di kumpulan saja tak akan bisa menggarami dunia.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*