Main Menu

Terorisme Di Indonesia

Setelah Divonis Mati, Aman Abdurrahman Malah Tantang Hakim

Aman Abdurrahman

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan hukuman mati terhadap Aman Abdurrahman yang didakwa berbagai kasus terorisme, serangan Thamrin.

Dalam sidang Jumat (22/06), majelis hakim menyatakan tak ada satupun alasan yang dapat meringankan hukuman terhadap Aman.

Aman dinyatakan terbukti terlibat dalam sejumlah kasus terorisme, antara lain Bom Thamrin, Bom Samarinda, serta dua penyerangan terhadap polisi di Bima dan Medan.

Begitu mendengar vonis hakim, Aman beranjak dari bangku terdakwa, kemudian bersujud. Ia tak menjawab saat hakim bertanya rencananya untuk mengajukan banding.

Puluhan polisi, baik yang bersenjata lengkap maupun berpakaian preman, mengawal Aman keluar dari gedung pengadilan.

Kepada para pewarta yang menunggu di luar ruangan sidang, Aman tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Menurut Asludin Hatjani, penasehat hukumnya Aman bersikap seperti itu sebagai cerminan tidak mengakui keberadaan negara Indonesia, termasuk lembaga peradilan.

Kepada wartawan, Asludin mengatakan bahwa sebelum sidang Aman Abdurrahman berpesan kepadanya untuk mengupayakan agar eksekusi mati dilaksanakan sesegera mungkin.

“Kalau sudah vonis, tolong saya diurus secepatnya eksekusi,” kata Asludin mengulang perkataan Aman.Betapa pun, kata Asludin, mereka berencana membujuk Aman untuk mengajukan memori banding.

Aman Abdurrahman Tak Akui Negara Indonesia

Karenanya, kendati Aman tak mempedulikan pertanyaan hakim tentang sikapnya trhadap vonis, Asludin berkata kepada hakim bahwa tim penasihat hukum akan mempertimbangkan upaya hukum lanjutan.

Majelis hakim yang diketuai Akhmad Jaini sepakat dengan jaksa, dan menyatakannya ‘terbukti secara sah dan meyakinkan’ berperan dalam tiga serangan terorisme tahun 2016 dan tiga serangan terorisme tahun 2017, lapor wartawan BBC News Indonsia, Abraham Utama dari persidangan.

Serangan-serangan yang dimaksud adalah serangan jalan Thamrin, Jakarta dan serangan gereja Samarinda (2016), dan tiga serangan pada 2017, yakni serangan bom terminal Kampung Melayu, penusukan polisi di Mapolda Sumut dan penembakan polisi di Bima, NTB.

Baca Lagi!   Pemilu Pakistan Diwarnai Dengan Aksi Bom Bunuh Diri Di TPS

Dalam pembelaannya di persidangan sebelumnya Aman Abdurrahman menyangkal semua dakwaan jaksa, dan menyatakan tidak bersalah.

Aman menyatakan baru mengetahui kasus-kasus penyerangan yang didakwakan kepadanya, justru dari proses sidang.

“Kasus-kasus itu terjadi November 2016 hingga September 2017. Saya diisolasi di LP Pasir Putih NK (Nusa Kambangan) sejak Februari 2016. Di masa isolasi itu saya tidak tahu berita sama sekali dan tidak bisa bertemu maupun berkomunikasi kecuali sipir LP.”

Soal serangan di kawasan Thamrin, Jakarta, Aman juga membantah keterlibatannya.

“Saya tidak mengetahui rencana penyerangan.”

Aman menyebut, guru dari pelaku atau teman si dari pernah sekali bertemu atau pernah mendengar rekaman kajiannya atau membaca tulisan tentang syirik demokrasi, itu tak berarti ia terlibat.

“Buku-buku dan kajian saya, baru bahas tauhid, belum bahas jihad.”

“Walaupun saya kafirkan aparat pemerintah ini, akan tetapi sampai detik ini saya dalam kajian atau tulisan yang disebarluaskan, saya belum melontarkan seruan kepada saudara-saudara kami yang hidup di tengah masyarakat ini untuk menyerang aparat keamanan,” katanya

Sidang pembacaan vonis Aman Abdurrahman dilangsungkan tertutup. Wartawan diminta keluar, dan baru akan diizinkan masuk jelang pembacaan vonis.

Polisi melakukan pengamanan ketat, melibatkan ratusan personel Brimob dan Polres Jakarta Selatan.

Belasan personel Brimob bersenjata bersiaga di dalam dan di depan tiga pintu ruang sidang utama. Media massa hanya dapat menyaksikan sidang dari satu pintu yang dibuka oleh polisi.

Berbagai aturan yang berbeda juga diberlakukan dalam sidang vonis untuk pendiri kelompok teror Jemaah Anshorut Daulah, Aman Abdurrahman, yang dituntut hukuman mati atau penjara seumur hidup, Jumat (22/6) ini, lapor wartawan BBC, Abraham Utama.

Misalnya, berbeda dengan seluruh rangkaian persidangan lainnya, meski terbuka untuk umum majelis hakim melarang pengunjung dan wartawan untuk membawa alat elekronik apa pun, termasuk kamera maupun telefon pintar.

Baca Lagi!   Dari Timur, Para Pejuang Indonesia Asal Timor Leste Terabaikan

Hakim mengacu pada keputusan Komisi Penyiaran Indonesia yang tidak merekomendasikan siaran langsung persidangan kasus pidana terorisme, baik di televisi maupun media massa daring.

Seluruh sidang lain di PN Jakarta Selatan Jumat ini, ditiadakan, sebagaimana terjadi saat sidang sebelumnya, saat pembacaan tuntutan kasus Aman.

Adapun, Aman menghadiri sidang didampingi tiga penasehat hukumnya dari Tim Pembela Muslim yang diketuai Asludin Hatjani.

Dia mengenakan baju koko biru dan celana hitam. Ia belum terlihat menuturkan sepatah kalimat pun, kecuali menjawab kesiapan dan kondisi kesehatannya kepada hakim.

Aman Abdurrahman, ISIS Indonesia

Sebelumnya Aman Abdurrahman sudah pernah dipenjara dalam kasus pendanaan dan pengorganisasian latihan paramiliter ilegal di Aceh, dan awalnya dibebaskan pada Agustus 2017. Namun ia lamngsung ditangkap kembali karena diduga keras terkait dengan perencanaan kasus bom Thamrin di Jakarta pada 2016.

Aman Abdurrahman
Suasana rumah tahanan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, Kamis (10/5/2018) setelah berhasil dikuasai kembali oleh Polri. Sebanyak 155 tahanan terorisme akhirnya menyerah tanpa syarat ke pihak aparat kepolisian setelah kerusuhan selama kurang lebih 36 jam.
(Foto: Bangka Pos)

Nama Aman Abdurrahman disebut-sebut dalam serangan-serangan bom di Surabaya yang menewaskan belasan orang, serta dalam kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 napi terorisme yang menewaskan lima polisi.

Dalam salah satu jumpa pers terkait berbagai serangan bom di Surabaya dan ledakan di Sidoarjo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut langsung nama tokoh ini.

“(Serangan-serangan bom bunuh diri itu) merupakan balas dendam para terduga teroris atas penangkapan kembali pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman serta penangkapan pemimpin JAD cabang Jawa Timur Zaenal Anshari,” kata Tito Karnavian, Selasa (15/5) lalu.

“Satu keluarga (yang melakukan serangan bunuh diri terhadap tiga gereja Surabaya) ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. Dia (Dita Oepriarto) itu adalah ketua JAD Surabaya,” ungkap Tito.

Sesudah pemberontakan 155 napi terorisme di mako Brimob, Selasa (8/5) lalu yang menewaskan lima polisi dan melukai sejumlah polisi lain termasuk seorang perempuan polisi yang sempat disandera, terjadi sejumlah serangan bom, yang menewaskan 18 orang dan puluhan luka.

Baca Lagi!   Hukuman Mati Untuk Aman Abdurrahman, Teroris Dan Pendiri JAD

Yang pertama adalah serangan di tiga gereja dalam selang masing-masing lima menit oleh keluarga Dita Oepriarto (suami isteri dan melibatkan dua anak remaja dan dua anak di bawah umur). Lalu terjadi ledakan bom secara tidak sengaja di Sidoarjo pada malam harinya. dan keesokan harinya terjadi serangan bom lain di Mapolrestabes Surabaya, oleh sebuah keluarga (suami, isteri, dua anak remaja -keempatnya tewas, plus seorang anak perempuan umur delapan tahun yang selamat karena terlontar saat bom meledak).

Menurut Jaksa Mayasari kepada BBC, Aman adalah tokoh ISIS di Indonesia, yang menulis buku Seri Materi Tauhid. Di persidangan buku yang ditulis oleh Aman Abdurrahman itu diperlihatkan sebagai barang bukti ©Bbc-indonesia.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked as *

*